That's we called : brothers (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, July 2, 2018

That's we called : brothers (esai)

Pertama, mengapa kita melarang dunia ini untuk mengecewakan kita? Kedua, bukan dunia yg salah, tapi kita yg terlalu kasar. Menginginkan sesuatu tapi tak selalu kuat berlari meraihnya. Lintasan lari itu, yg kita sebut sebagai, dunia._Jon Q_ 

"Mengalir saja, Mas. Nikmati dimana kita berada saat ini," kata Jon pada saudaranya.
"Jangan sampai, tubuh kita disini, tapi pikiran dan hati kita di tempat lain. Ibarat pacaran, tubuh kita bersama istri kita, tapi pikiran dan hati kita selingkuh, sedang memikirkan wanita lain,"

Saudara Jon itu, ikut mudik ke rumah istrinya. Ingin kembali pulang, tapi biaya sepertinya tak cukup. Maka si Jon menenangkannya. Dia sudah paham benar, resiko menjadi dirinya. Sok bijak di hadapan orang yg lebih tua itu, seringkali terlihat menyebalkan. Tapi, ia harus mengambil resiko itu. Seperti sebagian orang yg mengagumi pemikirannya. Jujur untuk manusia muda, mungkin seberat memikul gunung. Orang membaca, menikmati, terkadang juga tercerahkan, tapi tak mau mengakrabinya. Seperti orang yg diberikan hidangan. Ia memakan, menikmati, tapi tak mau menganggap yg memberi. 
"Iya, tahu, kau yg memberi. Aku makan, menikmati, tapi mengapa aku harus menganggapmu?" 

Pikiran manusia lebih sering membuat hidup ini terlihat semakin sulit. Barangkali itu yg dinamakan 'tersesat', dan ilmu-lah yg bisa mengembalikan pikiran pada kebenaran. 

"Undangan nikah buat aku banyak nggak?" tanya saudara Jon. 

"Banyak, tapi udah aku datangi," jawab Jon. 

"Kalau kamu kapan nikahnya? Masih belum ingin ya?" 

"Bukan ingin, tapi butuh," kata Jon berfilsafat lagi-lagi. "Segera. Tapi saat ini belum punya kepastian," 

"Ditolak lagi ya? Hehe," 

"Ditolak lagi, kapan?" Jon beralibi. "Kalaupun ditolak, tinggal datangi saja yg lain. Ditolak lagi, pindah lagi. Ditolak lagi, pindah lagi," 

"Nggak capek itu, Jon?" 

"Lah, hidup ini apa sih yg nggak capek?" 

"Kamu nggak malu?" 

"Emm.. Nggak tahu malu atau nggaknya sih," kata Jon. "Tapi begini, kita kalau berangkat kerja pagi-pagi, dingin nggak? Kalau belum sarapan, lapar nggak? Takut telat, terjebat macet, nggak? Tapi apa lalu kita berhenti, menyerah, memilih bolos dan kembali pulang? Kalau takut, jangan keluar rumah, benar nggak?" 

"Iya, iya, jagoan. Heran deh, kenapa orang macam situ ditolak terus," kata saudara Jon. 

"Bagaimana jika itu adalah rekayasa takdir yg aku sepakati antara Tuhan denganku, agar ada kisah manis yg bisa ku tulis?" 

Hening. 

"Tapi, kalau ada orang cari aku, kamu nggak apa-apa tangani mereka?" kata saudara Jon mengalihkan tema. 

"Never mind, dude. That's we called : brothers," Jon sok keren. "Insya Allah,"

No comments:

Post a Comment