Cinta Tertinggi - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, August 30, 2018

Cinta Tertinggi

H-9, Kamis sore, 30 Agustus 2018

Tuhan bilang : Kamu tak akan sanggup untuk mencintaiku.

Hamba : Mengapa?

Tuhan : Kamu lemah

Hamba : Bagaimana jika aku mencoba?

Tuhan : Aku tak akan mengakui cintamu itu

Hamba : Tuhanku, mengapa Engkau pikir cintaku pada-Mu ini butuh pengakuan? Aku hanya harus jatuh cinta, dan itu hanya pada-Mu. Karena jika bukan pada-Mu, pada siapa aku HARUS jatuh cinta? Mencintai dunia dan isinya bagiku bukan suatu keharusan.

Seorang anak muda bertanya tentang keikhlasan. Bagaimanapun mudahnya penjelasan tentang itu, kenyataannya untuk memiliki kualitas ikhlas adalah seumur hidup pembuktiannya. Bukan seperti ketika kita dapat lotere, nomer togel, lalu kita bisa menyimpan itu seumur hidup. Jauh sekali.

Siang lalu akhirnya aku mengerti mengapa banyak orang memilih putus asa terhadap Tuhannya. Dulu mereka taat, rajin belajar/mengaji, ibadahnya bagus, dengan ustadz/kyai dekat. Tapi kini mereka seakan menjauh, menolak mendapat pengajaran, merasa tak ada Tuhan pun hidupnya oke. Bagi mereka, Tuhan itu nomor dua, karena yang pertama adalah bagaimana menyelesaikan persoalan hidup dengan atau tanpa Dia. Seakan apa yang dipikirkan, jalan pikiran ketika mengambil keputusan, terlepas dari dua jalan pilihan : Tuhan atau setan. Menganggap Tuhan tak penting, dan menjauh dari jalan-Nya berarti mengikuti jalan satunya : setan. Fa alhamaha fujuuroha wa taqwaha. Dia memberi dua jalan, fujuur atau sesat, dan taqwa, taat, sesuai 'pakem', aturan yg telah Tuhan tetapkan lewat nabinya. Adakah jalan lain, jalan manusia sendiri, yg tidak tersesatkan setan, tapi juga terlepas dari jalan Tuhan? Mengapa kita pikir Tuhan tak lebih berkuasa dari kita? Doa-doa yg kita panjatkan dan tak dikabulkan Dia, bisa jadi kita 'memaksa-Nya' untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya kita sendiri mampu melakukannya. Dia ingin kita lebih kuat.

Dan kembali ke cerita atas, cinta yg tertinggi. Ketika kita telah mencintai dengan totalitas, dan kita sedikitpun tak merasa cinta itu harus terbalas. Ada atau tanpamu, jiwaku selalu penuh cinta.

*Ditulis di kamar, dengan jiwa terasa sesak membayangkan hari-hari esok.

No comments:

Post a Comment