Cinta yang putus asa (2) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, August 30, 2018

Cinta yang putus asa (2)

Kultum menjelang buka puasa
Jumat, 9 ramadan 1439 H



Kita lebih sering Ge Er (gede rasa) atau kepedean ketika kemudahan hidup datang. Menganggap diri sedang suci, dapat berkah, disayang Tuhan, dan positif thingking semacamnya. Sedangkan kita sebenarnya tidak tahu, bahwa yang sedang kita alami, sedih atau senang itu merupakan kebaikan atau keburukan. Memangnya ada kesenangan yang buruk? Banyak. Titik pentingnya adalah pada 'dzikir', mengingat Tuhan. Senang atau sedih, jika kita tetap berdzikir, maka itu baik. Dan begitupun sebaliknya. Bahkan jika pun misalnya penderitaan membuat kita lebih banyak berdzikir, bisa jadi itu yang terbaik untuk kita. Tapi, apakah tidak bisa, semisal dapat rejeki banyak, kemewahan, kekasih atau jodoh tercantik atau paling tampan dan tetap kita mudah mengingat Tuhan dengan kenikmatkan seperti itu? Bisa, sangat bisa. Tapi lebih banyak susahnya. Karena kebiasaan kita dapat sedikit rejeki saja yang teringat diskon belanja, bukan berdzikir tambah kuat di dalam hati. Apalagi kenikmatan yang lebih dari itu.

Dari kecil kita dididik untuk mudah merasa memiliki. Bahwa apa yang ada dalam diri kita adalah milik kita. Mobil-mobilan atau boneka anak-anak kita seringkali tak boleh dipinjam teman, sedang sebenarnya mereka lagi bermain bersama. Begitu berlanjut sampai dewasa, bahwa apa yang Tuhan anugerahkan adalah resmi milik kita. Di sisi lain, selain amal, kita nyaris tak punya apa-apa. Karena hukum mutlak dunia adalah segala sesuatunya mudah datang dan hilang.

Mudah merasa senang saat kemudahan datang, dan berputus asa ketika semuanya hilang. Itu tanda kita tak jelas memaknai hidup. Jika kita mencintai hidup, maka kita akan menerima baik buruknya dunia. Karena cinta tak bisa putus asa. Ia selalu menerima meski harus merelakan apa yang sangat diharapkan. Tak mungkin kita menggenggam apa yang sebenarnya bukan milik kita. Cinta yang benar tak akan putus asa, menerima meski ditinggalkan pada akhirnya. Karena hanya Tuhan-lah satu-satunya yang tak akan pernah meninggalkan manusia.

Hud ayat 9

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسٰنَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنٰهَا مِنْهُ إِنَّهُۥ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa tidak tahu berterima kasih.

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

No comments:

Post a Comment