Diving, isra, dan mi'raj (2) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, August 6, 2018

Diving, isra, dan mi'raj (2)

1 Juni 2015

Subhanaladziy asro bi'abdihi layla minal masjidil harami ilaa al masjidil aqso aladziy barakna hawlahu min ayaatina._Al Isro : 1_

"Kenapa para sahabat memberi nama surah 'al isro' dengan nama 'al isro', bukan 'al mi'raj', misalnya?" tanyaku pada Jon, melanjutkan diskusi bulan lalu. Pertanyaan begini, kalau ditanyakan pada ustadz/kyai 'kacangan' akan berbahaya. Mungkin tamparan akan mendarat di pipiku. "Bukankah makna 'mi'raj' (kenaikan, transendence) lebih 'tinggi' daripada sebatas 'isro' (perjalanan)?"

Jon merenung sejenak.

"Kau ingin disesatkan olehku lebih dalam?" tanya Jon balik.

"Hehe," aku cengengesan. "Jika itu menjadikanku lebih dekat pada Tuhanku, mengapa tidak?"

"Qur'an itu untuk manusia, menggunakan bahasa yg paling sederhana," jawab Jon singkat.

Aku tunggu penjelasan lanjutannya, ia malah diam. Tak ada tanda-tanda akan meneruskan kalimatnya.

"Jadi, 'isra' atau perjalanan, itu lebih sederhana ya daripada 'mi'raj' atau kenaikan?"

"Iya. Orang awam akan bingung kalau pakai 'mi'raj', kenaikan. Kenaikan apa? BBM?" Jon mulah eror.

Asem.

"Semacam perjalanan jiwa ke dalam diri sendiri, ya?" tanyaku lagi.

"Awalnya, dalam pemahamanku yg dangkal ini, iya." Jon nampak mulai serius. "Ia, rasulullah, berada di dalam 'sesuatu' yg mampu bergerak dengan kecepatan cahaya kuadrat tujuh,"

Whattt?

"Kecepatan cahaya kuadrat tujuh (300.000 km/detik x kuadrat 7)? Gila," aku tak sanggup membayangkannya. "Apa rasionalisasinya, Jon?"

"Rasul dibawa oleh 'sesuatu' itu dari masjidil haram, mekah, ke masjidil aqso, palestina, dengan kecepatan cahaya. Orang mendengar kecepatan seperti itu bagai petir. Lalu beliau sholat di masjidil aqso, 'menyelam' ke dasar jiwa yg terdalam. Bertemu dengan para nabi di maqam-maqamnya (derajat jiwa) masing-masing. Dan terakhir, hawlahu min ayaatina, Allah menunjukan 'sebagian' tanda-tanda-Nya, dengan membawa rasul ke awal penciptaan semesta, dan masa depan semesta ketika kiamat dengan kecepatan cahaya kuadrat tujuh,"

Rasanya aku mau muntah, mendengar penjelasannya yg 'gendeng'.

"Okeh, okeh, kalau menuju masa depan dengan kecepatan cahaya kuadrat tujuh mungkin bisa, tapi bagaimana menuju awal penciptaan semesta ini?"


bersambung.

No comments:

Post a Comment