Diving, isra dan mi'raj - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, August 6, 2018

Diving, isra dan mi'raj

19 Mei 2015

Lihat dan dengarkanlah, tapi jangan kau ikuti mereka - apa yg kau lihat dan dengar. Ikutilah Aku, Allah, Tuhanmu.

"Aku menemukan penjelasan baru tentang isra mi'raj," kata Jon selepas isya malam lalu. "Tapi, aku takut mengungkapkannya,"

"Takut kenapa?" tanyaku.

"Ini bertentangan dengan penjelasan yg selama ini dikisahkan, baik oleh para ulama, ataupun ilmu fisika,"

"Emm.. Aku tahu, pemahamanku tak begitu tinggi," kataku lagi. "Tapi aku akan memdengarkan,"
Jon pun memulai ceritanya tentang petualangan spirit-intelektualitasnya yg sepertinya baru ia jalani :

Pikiran kita, dari hasil pendengaran dan penglihatan, menghasilkan banyak sekali sampah yg mengotori jiwa. Aku merasa, ketika Tuhan berkata dalam qur'an, Ia memberikan pendengaran dan penglihatan sebagai ujian, adalah tentang ini. Ulama tasawuf berkata, bahwa sholat adalah mi'raj-nya (kenaikan) orang mukmin. Ash sholatu mi'rajul mu'minin. Itu benar, dan ketika sholat kita tak khusu', sedikit apapun ingatan dari pendengaran dan penglihatan yg lalu, itu sampah.

Isra diartikan sebagai perjalanan, sedang mi'raj adalah 'kenaikan'. Aku mengartikan berbeda - bahwa mi'raj, adalah 'menyelam'. Ilmu fisika hanya bisa menjelaskan bagaimana rasul isra, dari masjidil haram (Mekah) ke masjidil aqso (palestina). Tapi tak akan pernah sanggup menjelaskan mi'raj. Karena ini bukan lagi tentang ruang dan waktu, baik menurut Einstein ataupun Newton.

Kemarin aku bicara tentang jutaan nutfah-nutfah (sperma) yg mati, dan hanya satu yg mampu hidup. Itu adalah simbol, tentang umat manusia yg selamat sampai ke jannah-Nya (surga, kedamaian Tuhan). Jutaan atau bahkan milyaran jiwa-jiwa yg telah mati tersesat, karena mereka tak mampu mi'raj ketika hidup. Nabi Muhammad begitu cinta pada kita, ia memberikan hadiah pada kita berupa sholat dan puasa. Sholat adalah titian, petunjuk jalan agar kita mi'raj, sedang puasa adalah cara agar kita membersihkan sampah-sampah hasil pendengaran dan penglihatan kita.

Mi'raj, ketika nabi mulai 'menyelam' melewati maqam-maqam (derajat/dimensi) para nabi sebelumnya, hingga ia akan 'sampai' pada Tuhan. Jibril tak mampu memasukinya, Sidrah al Muntaha (yg diibaratkan sebagai pohon buah bidara), seperti cahaya yg tak mampu menembus kedalaman lautan terdalam. Nabi bertemu Adam, Idris, hingga Ibrahim di 'langit' (maqam) tertinggi, itu pembuktian bahwa ada hidup setelah mati, dan itu memperantarai dunia dan Tuhan. Di sana, jiwa-jiwa terpisah hijab. Nar, api, adalah jiwa-jiwa yg terpenjara dalam kegelisahan. Jannah, kedamaian, adalah maqam jiwa-jiwa yg telah berhasil melakukan mi'raj saat masih hidup. Dan rasulullah menjawab, "Assalamu'alayna wa ala ibadillahish sholihin," keselamatan untuk para hamba yg salih, yg sholatnya mampu membawa ia mi'raj, melewati petunjuk-petunjuk yg nabi berikan dalam sholat.

Bersambung (?)

No comments:

Post a Comment