Kisah Musa Alaihis Salam (2) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, August 14, 2018

Kisah Musa Alaihis Salam (2)

Kultum menjelang buka puasa
Senin, 19 ramadan 1439 H



Ketika Musa melarikan diri setelah membunuh prajurit Fir'aun yang menyiksa kaum yahudi, dia bertemu dengan dua orang gadis penggembala kambing. Mereka, dua gadis itu kebingungan, karena di satu sisi mereka harus mengambil air dari sumur yang di kelilingi banyak pria, di sisi lain mereka tentu saja tak berani. Kita jangan anggap Musa adalah pria penuh modus. Melihat itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan salah satu di antara mereka. Saat kondisi itu, Musa seperti para nabi muda lainnya, polos, lempeng, tak memikirkan apapun selain apa yang baru saja dia alami : melarikan diri setelah membunuh. Tidak ada sebersit pikiranpun dia ingin menolong untuk mendapatkan lebih banyak. Wa la tamnun tastaktsir (al Mudatsir : 6).

Musa berperawakan macho, tinggi besar, tapi bertampang lempeng bak wajah orang yang orang lain merasa gatel sangat ingin menipunya. Tapi jangan tanya tentang kenekatannya. Hampir semua nabi punya ciri khas itu : nekat. Nabi Adam nekat mendekati pohon khuldi. Nabi idris nekat meninggalkan sandalnya di surga agar bisa kembali lagi setelah sampai ke bumi, dll. Musa nekat menolong gadis itu untuk mengambilkan air di sumur tersebut. Dan siapa yang tak takut? Laki-laki yang berkerumun itupun menghindar.

Tak terpikir oleh Musa tentang akibat tindakan pertolongan itu. Yang ada dipikirannya adalah segera kabur sejauh-jauhnya, agar tidak terkejar prajurit Fir'aun. Tapi tidak dengan perempuan itu. Salah satu dari mereka menawarkan pekerjaan pada Musa, menjadi penggembala kambing mereka. Musa menerima, karena memang dia gelandangan yang ketakutan menjadi buronan raja kejam. Hal jazza-ul ihsani illal ihsan (ar rahman : 60).

Melarikan diri adalah kata lain dari hijrah. Tergantung sudut pandang saja kita memahami, dan menggunakannya di hadapan siapa. Musa 'melarikan diri' seperti Nabi Muhammad yang juga harus 'melarikan diri' ke Madinah. Ini strategi hidup. Manusia diciptakan bukan untuk tujuan sepele/sia-sia. Kita semua punya misi, punya tugas, punya urusan (umr) yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Namun dunia ini menjadikan kita lupa. Manusiawi. Dan mereka yang tetap memilih bertahan dalam jalan kebaikan, tetap tegar dalam tujuan hidupnya sebagai manusia, sebagai orang beriman, yang akan pulang dengan kebanggaan di hadapan Tuhannya. Jika memang kebaikan kita tak mampu tumbuh, menyebar, membesar, maka kepastiannya adalah hijrah, atau bahasa lain dari itu : melarikan diri. Membesarkan diri dan menyebar kebaikan di tempat yang baru.

Musa pun begitu. Dia membesarkan diri bersama istri dan anaknya. Menempa jiwa dan kecerdasannya (nanti ada episode belajar pada Khidir). Mencoba memaafkan diri dari dosa besar, yaitu membunuh, yang ternyata nantinya Fir'aun tak lupa tentang itu.

Ash-Syu'ara : 19

وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِى فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكٰفِرِينَ

dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tak tahu terima kasih.

Al-Muzzammil : 19

إِنَّ هٰذِهِۦ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَنْ شَآءَ اتَّخَذَ إِلٰى رَبِّهِۦ سَبِيلًا

Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang akan menyampaikannya) kepada Tuhannya.

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

www.kopiserialjon.xyz

No comments:

Post a Comment