Menenangkan hembusan angin dalam diri - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, August 23, 2018

Menenangkan hembusan angin dalam diri

Kultum menjelang buka puasa

Jumat, 2 ramadan 1439 H



Malaikat diciptakan dari cahaya (nur), jin dari api (nar), dan manusia dari tanah liat (sholsholin), dan nafsu dari udara (hawa). Syetan mengalir di dalam darah manusia, menjadi jalan jin untuk meniupkan angin dengan apinya.

ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥَ ﻳَﺠْﺮِﻱ ﻣِﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﻛَﻤَﺠْﺮَﻯ ﺍﻟﺪَّﻡِ
Mungkin itu mengapa ketika kita marah, cemburu, dendam, terasa sekali panas (api) yang dihembuskan ke dalam angin (nafsu) diri kita. Lalu bagaimana menenangkan hembusan angin itu? Puasa. Melampaui makna berhenti makan, minum, bersenggama dan semacamnya, yaitu memberhentikan sifat-sifat manusiawi kita. Marah, benci, menyia-nyiakan waktu, dendam, cemburu, dan sebagainya. Bagaimana caranya? Dicoba. Bagaimana cara mencobanya? Dengan akal, berpikir, lawan semua itu dengan ilmu. Meminjam istilah Einstein, orang emosian sedikit ilmu, orang berilmu tak mudah emosi. Apakah tak jelek memberhentikan sifat-sifat manusiawi manusia? Apakah yang dicontohkan rasul dan para salafushsholih itu jelek?

Yusuf : 53

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.

Selamat berbuka puasa, sahabatku. Dzahaba dzoma'u, wabtalatil uruqu, wa tsabatal ajru, insya allah. Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah diraih pahala, insya allah.

No comments:

Post a Comment