Tahu, mungkin tahu, dan tidak tahu - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, August 8, 2018

Tahu, mungkin tahu, dan tidak tahu


Socrates adalah gurunya Plato dan Plato adalah gurunya Aristoteles, dan aristoteles adalah gurunya Alexander The Great atau Dzulqarnain. Jika Dzulqarnain adalah nabi, apakah buyut gurunya tidak termasuk nabi? Socrates pernah berkata "Yang aku tahu adalah bahwa aku tak tahu apa-apa". Ini pernyataan sekelas quran. Seperti yang sering diucapkan lewat lisan sang nabi, "Aku tak tahu apa-apa selain apa yang diwahyukan padaku". Bahwa ilmu, adalah tentang informasi yang datang dari 'langit', lalu kita yakini. Dan apa yang kita dapatkan lewat indera, juga mungkin akal, adalah segala sesuatu yang tak bisa kita sebut sebagai 'ilmu'. Tapi jika begitu, maka ilmu adalah bagian iman. Karena ilmu yang dimaksud tak bisa disahkan kecuali hanya oleh iman.

Maka keimanan manusia tertinggi adalah ketika ia sudah sampai pada derajat ketidaktahuan. Maksudnya, apa yang ia pelajari sungguh-sungguh, selama ini, justru ia tak mau dipengaruhi oleh ilmu yang ia dapatkan susah-susah. Dia, bahkan berdaulat (merdeka) dari pengetahuannya sendiri. Hidupnya lebih dulu tidak dipengaruhi oleh pengetahuan yang ia pelajari, melainkan apa yang ia dapatkan dari Tuhan. Ini seakan seperti nasehat orang jawa : ojo gumunan. Seseorang yang hanya mensahkan pengetahuannya dengan quran dan sunnah, ia tak akan merasa heran dengan dunia. Hal ini membuat kita diarahkan, bahwa tidak ada ilmu apapun yang bisa diandalkan kecuali semua informasi 'langit' dari Nabi Muhammad terjemahkan dengan bahasa bumi.

Sungguh tertipu kita, jika menganggap apa yang sebenarnya kita tidak tahu, atau hanya sebatas mungkin tahu, merasa diri sudah tahu. Sedangkan di 'wilayah' itu, ketika seseorang telah sampai pada ketidaktahuan, tidak ada pembedaan antara sudah dan belum.

No comments:

Post a Comment