The little boy old - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, August 4, 2018

The little boy old

4 Juni 2015 pukul 07.26


Kau tahu, kenapa banyak keinginan-keinginanmu yg berujung kegagalan? Tanya jiwamu! Mereka, keinginan-keinginan itu, terlalu kecil. Dan kau sedang berada dalam keinginan yg lebih besar. Apa? Tanya jiwamu!_Jon Q_ 

Salah satu ujian besar manusia barangkali adalah tentang kesempatan. Dunia ini berputar, mengulang kembali apa yg terjadi hanya fenomena dan waktunya saja yg berbeda. Ia yg di saat muda senang bekerja keras, akan mendapati masa tuanya dengan fenomena yg sama : tetap senang bekerja. Ia yg malas dan manja, juga sama, akan mendapati dirinya menjadi individu yg malas dan manja di hari tuanya. Dan ia yg di saat muda menghancurkan kualitas diri, akhlak, moral, demi sesuatu yg disebut 'kesempatan' hidup, akan menjadi orang tua dengan keburukan yg menjadi temannya. 


"Mas nggak tertarik dengan salah satu di antara mereka?" pertanyaan seperti ini, atau, "Nanti saya kenalkan dengan 'fulan' atau 'fulanah', Mas mau nggak?" sering sekali datang pada Jon. Tapi, kali ini ia tak beralasan bohong untuk menolak. Kali ini dan seterusnya hingga Tuhan menentukan nanti, ia menjawab : 

"Saya sudah punya seseorang yg saya suka (fall in love), Pak. Saya ingin menjaga itu sampai Tuhan memutuskan ia menjadi takdirku atau bukan," 

Tentang cara berpikir Jon yg rumit, itu sudah dikatakan banyak orang, termasuk beberapa perempuan yg ia sukai di masa lalu. Yg menjadi ciri khasnya, barangkali tentang keras kepalanya, menunda menikmati apa yg banyak orang sebut 'kesempatan' hidup. Dan tak selalu mudah, menunda kesempatan ketika itu berkali-kali datang. Tapi, untuk melakukan sesuatu yg benar, terkadang seseorang harus tabah. Bahkan merelakan sesuatu (kesempatan) yg paling ia inginkan, termasuk sebuah impian. 

"Kau ini menunggu apalagi?" kata seorang teman kuliah dulu. "Sudah mapan, cara berpikirmu sudah matang, orangtuamu juga terpandang, kau punya karya, dan memang sedang saat-saatnya memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan seorang perempuan. Apa yg kau tunggu?" 

"Waktu yg tepat, bung," jawab Jon. "Aku belajar dari banyak manusia yg tergesa-gesa menentukan. Bahkan, seorang yg berjiwa besar pun mudah terjatuh hina hanya karena perempuan," 

"Lho, kau ini bagaimana, itu semua tentang upaya. Seberapa kuat kau memperjuangkan itu, dan tentang prioritas keinginan. Kau memilih takut tak mendekati perempuan, daripada mengungkapkan perasaanmu?" teman Jon menyanggah. "Lagipula, kau pernah berkata - meski tentu aku tak percaya, kau sudah tak takut pada apapun lagi. Bagiku tak logis, karena seseorang yg tak takut pada apapun lagi, ia tak mencintai apapun. Kebahagiaan macam apa yg ada dalam jiwa orang seperti itu?" 

Tapi, seperti apapun penilaian orang, Jon tipe manusia yg tak mau hidup dalam bingkai keinginan orang lain. Ia menghargai kritik, tapi tidak dengan selalu menjawabnya. Kehidupan membuatnya seperti seorang anak kecil yg terlihat 'tua', karena cara berpikir yg ia miliki. Menjadi bahan candaan siswanya yg masih muda-muda, sekaligus candaan untuk rekan sesama kepala sekolah karena usianya yg masih 'belia' : di tengah-tengah masyarakat yg kolot. 

"Itu jenggot palsu atau akar gigi, Pak?" ledek rekan kepala sekolahnya. Candaan ini membuat mereka terpingkal senang. Jenggot tipis yg mulai memanjang itu membuatnya lucu, anak muda yg terlihat begitu dewasa. 

"Bukan, bukan wig jenggot atau akar gigi. Ini bulu hidung, kepanjangan," jawab Jon. Dasar konyol.

No comments:

Post a Comment