Berdamai dengan diri sendiri - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, September 4, 2018

Berdamai dengan diri sendiri

Kultum menjelang buka puasa
Jumat, 16 ramadan 1439 H



Secara mendasar, sebelum seseorang mulai mencintai orang lain, ia sebaiknya telah mampu untuk mencintai dirinya sendiri dengan cinta yang benar. Apa itu cinta yang benar? Ketika kita mencintainya membuat diri kita semakin baik, dan ketika tanpa dia pun tidak lantas kita menjadi buruk (karakternya). Lalu, la yu'minu ahadukum hatta yuhibbul akhihi ma yuhibbu linafsih (al hadits). Tidak sempurna keimanan seseorang sebelum kita mampu mencintai saudara kita seperti cinta untuk diri kita sendiri. Habblum minan nas, cinta kepada sesama.

Tidak dikatakan kita telah mencintai diri kita dengan cinta yang benar, sebelum kita mampu menerima diri kita sendiri seutuhnya, baik dan buruknya, sisi gelap dan terangnya. Ada nasehat : aku menerimamu saat baik sebagaimana aku juga menerimamu saat buruk, wahai diriku sendiri. Jangan terlalu menyalahkan diri kjta sendiri. Sekali lagi, mencari siapa yang salah adalah urusan kedua setelah 'bagaimana ini diselesaikan' terjawab jelas.

Berdamai dengan diri sendiri memang terkadang justru cara yang paling sulit. Tak ada perdebatan, tak ada pertengkaran lagi di dalam kepala kita. Bagaimana caranya?

Tidak satupun manusia seharusnya merasa telah aman dari dunia ini. Hukum fisika berlaku, aksi = reaksi. Semakin bodoh kita, alam akan semakin keras mendidik kita. Semakin keras kepala kita tak mau berubah, semakin suram masa depan kita. Dengan kadar 'semakin' yang sama besarnya. Dunia ini bukan tempat yang (ny)aman untuk manusia, bukan karena manusia itu jahat, tapi karena mereka susah untuk peduli (Albert Einstein).

Yaa ayyatuhan nafsul muthma'inah, irji'i... (Al fajr :27-28), wahai jiwa-jiwa yang tenang, pulanglah, kembalilah pada Tuhanmu ketika engkau merasa hilang arah. Dunia ini bukan tempat yang aman untuk mereka yang tak mau berlindung pada Tuhan. Manusia tak akan sanggup menjalankan hidup ini tanpa-Nya. Sekedar meniup mata yang kelilipan saja kita tak mampu, apalagi untuk hal-hal besar lainnya. Dia menunggu kita menyapa dalam doa. Dia tahu kita membutuhkan-Nya, tapi tak mau mengganggu kita yang sedang sok sibuk dengan dunia yang justru seringkali membuat kita kecewa. Laysa amina illa indallah, tidak ada rasa aman kecuali berada di dekat (sisi)-Nya.

At-Taubah ayat 16

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جٰهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِۦ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjuang di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Al-Mulk : 16

ءَأَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَآءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِىَ تَمُورُ

Sudahkah kamu merasa aman, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

www.kopiserialjon.xyz

No comments:

Post a Comment