Bill Bates Ku Kalahkan (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, September 8, 2018

Bill Bates Ku Kalahkan (esai)

The Day not just in born, dude.

Tak harus menjadi Bill Gates untuk menyumbangkan hampir semua gaji untuk perjuangan sosial. Tak harus menjadi anggota dewan atau presiden untuk mengembalikan gajinya pada rakyat. Tapi jika Tuhan memintamu untuk berjuang di jalannya, menjual jiwa raga dan hartamu untuk-Nya, lalu ketika kau mendapat 'medali' kau pun mengembalikannya pada manusia-manusia yang kau jaga, itu baru nikmat. Aku seakan seperti seekor anak elang yang tumbuh di lingkungan para ayam. Tuhan mendidikku dengan pelajaran-pelajaran terbaik untukku. Memimpin sekolah kecil, tapi berpikir layaknya seorang pemimpin negara. Belajar keseimbangan kebijakan fiskal moneter, aset-liabilitas (kewajiban), bisnis padat karya, pendidikan kaum tertindas, penjagaan kedaulatan 'wilayah', dan yang paling penting : Ia menjaga kesadaranku pada perjuangan abadi untuk kaum yang dilemahkan. Dahsyat.

Siapa aku?

Mungkin sebentar lagi wajahku akan mulai terlihat, dan aku akan sedikit mengenal siapa diri ini sebenarnya.

Setahun kemarin aku lewati dengan kejutan besar di September 24, jagoan yang diwujudkan Allah lewat doaku yang penuh rasa khawatir dan harap. Tuhan, beri aku teman. Jika satu Farid saja Engkau lihat ada sedikit perubahan di tempat ini, maka 10 Farid akan ada perbaikan yang lebih besar terjadi. Insya Allah.

Aku tahu Dia tak rugi apapun jika dunia ini hancur. Aku tahu Dia tak lantas merasa bangga ketika dunia diramaikan oleh orang-orang beriman yang perkasa dan memperbaiki kerusakan dimensinya. Tapi ini tentang kita, manusia, dan orang-orang yang hidupnya dipermainkan oleh mereka yang merasa berkuasa bahkan melebihi Tuhan. Bulan Desember-Januari aku tertipu sekaligus dicampakkan dari perjuangan yang sedang aku kejar. Pelajaran berharga, aku kira sudah lulus diuji dalam hal keterlepasan. Ketika kita sedang kuat-kuatnya mencintai, Dia memintaku untuk melepasnya sepenuh hati. Lagi, dan lagi. Aku kira aku sudah jauh melampaui itu. Tapi ternyata hidup ini siklus, yazid wa yanqush, history repeat itself.

Tapi tahun ini juga aku diberikan pemahaman yang mantap. Tentang pertarungan dengan setan yang gencatan senjata tahun kemarin. Menelanjangi setan dan menertawakannya setelah lama aku berkali-kali dipecundangi dari dalam sana. Aku dapat melihat bagaimana Tuhan menentukan masa depan. Aku paham bagaimana doa yang cepat terkabul. 'Dimanakah' Tuhan berada sampai-sampai jibril dan surga pun tak tahu itu. Tentang cinta yang lebih dalam, tentang keikhlasan yang diartikan manusia zaman ini sebagai kegilaan.

Kemarin aku bilang akan menjelaskan (sedikit) tentang dimensi orang-orang mati. Itu wilayah iman, tak bisa ditelusuri akal pikiran secanggih apapun itu. Tapi bahwa manusia dilahirkan di bumi, diwafatkan di bumi dan akan dibangkitkan di bumi juga, itu adalah kepastian. Bahwa kesadaran kita semakin dipersempit, tentang apa yang di hadapan Tuhan, memang benar. Mengapa kita mengira langit tertinggi dan bahkan lauhul mahfudz itu bukan 'di bumi'? Kemana Nabi Muhammad Mi'raj, jika di hadapan Tuhan tidak ada 'ruang' apapun : langit kesatu, kedua, dan seterusnya?

Aku sekarang paham, mengapa rasulullah sering berkata (dan kondisi psikologisnya) : aku tak pernah berkata bahwa aku mengetahui yang gaib, aku tak tahu apa yang akan Tuhan putuskan terhadapmu dan terhadapku, dst. Karena yang gaib menurut kita, belum tentu gaib menurut beliau. Ini tentang wilayah penglihatan. Aku juga mengerti, bagaimana 'mekanisme' teleportasi Ashif ibn Barkiya yang memindahkan singgasana ratu Bilkis ke kerajaan Sulaiman. Apa arti 'seorang hamba yang mendapat ilmu dari kitab', bahwa quran telah menyaring semua ilmu indera dan akal yang ia dapat. Aku paham bagaimana rekayasa kesadaran Nabi Sulaiman sampai ia bisa mengendarai angin, bahasa binatang, dan menelanjangi jin baik yang mukmin atau yang kafir, juga doa beliau yang meminta kerajaan terkuat sepanjang usia semesta. Tapi apakah aku bisa? Paham dan bisa, adalah dua hal yang berbeda. Manusia bisa belajar, keputusan adalah milik Tuhan. Jika kau mampu melakukannya, maka sisi manusiamu telah hilang. Karena di hadapan Tuhan, semua lenyap. Lagipula, kau pikir rasulullah tak bisa semua itu jika ia mau? Ia mampu, tapi memilih kejelataan.

Akhirnya, aku juga paham, tak sedetikpun aku melepaskan diri dari setan. Ia mengikutiku selama aku berkeinginan. Dan tiap kesalahan (dosa) yang aku lakukan, aku buatkan untuk mereka tempat nyaman dalam jiwaku ini. Mereka bisa diusir, tapi selama rumah-rumah mereka tak kita hancurkan, seumur hidup kita akan bertempur dengan mereka berulang kali : innahu aduwwum mubin.

Begitu banyak kecacatan yang aku simpan selama ini. Entah dengan rasa syukur dan cinta yang bagaimana yang harus aku ungkapkan pada Tuhan dengan umur yang masih diberikan. Aku hanya berani memegang kuat niat, bahwa aku yang ini belum menjadi aku. Ini masih proses panjang, dan akan jadi apa aku nanti, itu ku serahkan padaMu saja. Alhamdulillah dengan apa yang Engkau berikan tanpa pernah ku memaksa. Engkau adalah raja, dan aku adalah hamba. Engkau tak wajib memberi, karena hamba tak punya hak apapun bahkan untuk sekedar berharap akan menerima. Allohuma sholli alaa muhammad, wa ala alaihi.

Sabtu, 8 September 2018, di @sekolahku yang sedang tumbuh merangkak.

No comments:

Post a Comment