Jangan mudah berteriak - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, September 5, 2018

Jangan mudah berteriak

Kultum menjelang buka puasa
Jumat, 23 ramadan 1439 H



Jika diambil dari arti secara bahasa, puasa berarti mengendalikan, ngerem, menguasai diri, dan lebih sering untuk persoalan batin : jiwa. Anak-anak kita yang belajar di taman kanak-kanak sepertinya hafal nasehat "la taghdlob wa lakal jannah", jangan marah bagimu surga. Puasa, seharusnya mampu menjadikan kita, terlebih lagi menjelang akhir bulan, menjadi diri yang lebih tenang dan mampu menguasai diri lebih mantap.

Suatu saat Abu Bakar dimarahi seseorang. Ia dibentak, diteriaki, namun Abu Bakar tetap tenang dalam duduknya. Rasulullah yang berada di dekatnya tersenyum melihat itu. Tapi ketika orang itu selesai, justru Abu Bakr membalas teriakan itu. Seketika rasul pergi meninggalkannya. Abu Bakr mengejar, ya rasul jangan tinggalkan aku, katanya.


"Ketika engkau dimarahi dan engkau tetap tenang, malaikat ikut duduk bersama kita. Tapi ketika engkau balas memarahinya, setan duduk di antara kita, dan aku tak mau satu majlis bersama setan," kata rasulullah.

Ali ibn Abi Thalib saat perang khaybar (?) menjatuhkan musuhnya dan hampir menebas leher si musuh. Tapi ketika musuh itu meludahinya, Ali justru menyarungkan pedangnya kembali. Si musuh heran. Lalu Ali berkata, "Aku berperang karena Allah, tapi ketika kau meludahiku, setan menghembuskan kemarahan padaku. Dan aku tak mau mengikuti selain perintah Tuhanku," si musuh itu pun masuk islam.

Demikianlah memang seharusnya orang beriman, mereka menomorsatukan Tuhannya daripada dirinya sendiri. Keinginan-keinginan diri selalu di bawah ketundukan pada Tuhan. Jika pada orang lain saja kita tidak diperbolehkan mudah marah, apalagi pada orangtua kita sendiri. Seperti apapun perjuangan kita untuk mereka, tak akan pernah sebanding dengan pengorbanan diri mereka. Sebanyak apapun uang yang kita berikan pada mereka, tak akan pernah bisa bahkan hanya mengganti air susu yang kita minum saat bayi dulu. Jika pada kekasih atau istri saja kita bisa berkata cinta, seharusnya pada orangtua juga lebih daripada itu. "Dengan cinta, aku menerimamu, kekasihku. Tapi bahkan tanpa cinta pun, aku akan selalu menerima ayah dan ibumu apapun kondisinya" idealnya begitu. Mengingat begitu banyak dari kita, suami, yang mendadak stress berat ketika melihat istri mengambek. Jika menangis itu menguatkan, cukup temani ia dengan secangkir teh hangat dan pelukan.

Mungkin orang sering mengejek kita, motor kita ditikung di belokan, diomongi orang di belakang, dikecewakan teman berkali-kali, ditinggalkan kekasih, atau hal-hal lain yang menurut kita adalah ketidakberuntungan. Jangan mudah marah dan berteriak. Dengan kekuatan puasa, jadilah lebih tenang. Orang yang tenang mudah dipercaya. Orang yang tenang akan diandalkan. Orang yang tenang dikagumi dan diberikan tanggung jawab besar. Orang yang tenang berumur panjang (Richard Templar, buku rule of life)

Al-Isra' ayat 23

وَقَضٰى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِالْوٰلِدَيْنِ إِحْسٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

www.kopiserialjon.xyz

No comments:

Post a Comment