Jurus Iblis - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, September 8, 2018

Jurus Iblis

Kultum menjelang buka puasa
Senin, 12 ramadan 1439 H



Setidaknya, ada dua hal yang menjadikan hati kita merasa ketakutan, was-was, cemas. Pertama adalah setan (min syaril waswasil khonas), dan kedua adalah kesalahan/dosa (laysa khoufun fishshudur illa dzunuba). Beda antara rasa cemas dari setan dan dosa ada pada 'waktu' dirasakannya kecemasan itu. Semisal tiba-tiba kita merasa cemas begitu saja, tidak ada tanda-tanda apapun, bisa jadi ini salah satunya. Setan menghembuskan rasa khawatir, membuat pikiran berburuk sangka, lalu pikiran memberikan sinyal pada semesta, dan terjadilah apa yang kita takutkan itu. Dalam dunia fisika, hal 'kecil' ini disebut 'efek kupu-kupu' atau butterfly effect. Kita salah tafsir, menganggap itu adalah firasat, keistimewaan yang kita miliki pemberian Tuhan. Sedangkan setan juga bisa mengerjakan itu. Tanda itu dari setan? Kita yakin kemampuan itu (firasat) memang dari Tuhan.

Rasa takut kedua dari dosa, biasanya terasa setelah kita melakukan sesuatu yang memang tidak seharusnya. Hati kita kotor, tak nyaman, tapi karena kita memaksa diri, akhirnya dosa itu menumpuk dan memperburuk sifat kita. Nasehat sang rasul : ada satu bagian tubuh manusia yang jika itu baik, maka akan baik seluruh diri manusia itu. Dan jika itu buruk maka diri itupun akan buruk sepenuhnya. Bagian diri itu adalah hati, qolbu. Bukan kalbu, pakai kaf, kalbu berarti anjing.

Jin tersuci membangkang pada Allah, dia mengajarkan jurus yang sampai saat ini kita sering menggunakannya. Saat dia diminta bersujud pada Adam, dia menolak. Mengapa aku harus mengikuti bocah ingusan (Adam) itu? Aku diciptakan dari api sedangkan ia dari tanah. Kholaqtani min nar wa kholaqtahu min thiin. Jin itu dijatuhkan dari surga, tertolak (ablasa, iblis) dari jamaah malaikat lagi.

Sampai saat ini, kita menggunakan jurus itu : perbandingan. Pada anak atau siswa kita, sering kita bilang : kamu kok nggak seperti itu, anaknya pak anu anaknya bu Fulan, dsb. Perbandingan tak boleh untuk diri manusia. Hanya boleh untuk benda mati, dan sifat. Adam tak boleh dibandingkan dengan Jin (iblis), karena memang tidak sebanding, berbeda dan tak bisa saling berubah. Adam berubah jadi iblis, begitupun sebaliknya : itu tak mungkin. Yang ada Adam (manusia) yang ke-iblis-iblisan. Tidak boleh membandingkan burung dengan kambing, pohon kelapa dengan bunga mawar, apalagi putra putri kita. Mereka memiliki kemampuan unik masing-masing pemberian Tuhan.

Jurus iblis selanjutnya yang lebih parah adalah menyalahkan. Sudah salah, tak sadar diri, menuduh orang lain pula. Iblis tak mau sujud, tak sadar diri, menyalahkan Adam pula. Maka ketika ada persoalan, pertanyaan 'salah siapa' itu nomor dua, yang pertama adalah 'bagaimana kita menyelesaikan ini'. Itu tugas khalifah, Adam, diturunkan ke bumi memang untuk menyelesaikan urusan umat manusia dan semesta.

Al-A'raf : 12

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِنْ نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".

An-Nisa' ayat 112

وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيٓئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِۦ بَرِيٓئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

No comments:

Post a Comment