Kisah Musa Alaihis Salam (3) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, September 14, 2018

Kisah Musa Alaihis Salam (3)

Kultum menjelang buka puasa
Selasa, 20 ramadan 1439 H



Wa la taziro wazirotuw wizro ukhro (al fatir : 18), setiap orang hanya memikul tanggungjawab dirinya sendiri. Demikian juga para nabi. Dalam episode belajar pada Khidir sebelum 'berduel' sihir dengan Fir'aun, Musa 'dikacangi' oleh Khidir yang oleh Tuhan telah dibukakan hijab antara dimensi saat ini dan masa depan.

Ketika Khidir berkata pada Musa : engkau tak akan mampu (sabar) mengikutiku. Ini bukan ungkapan meremehkan, melainkan bahwa Khidir mampu 'mengukur' setinggi mana derajat akal Musa. Dan memang tanpa kita sadari, ada orang-orang di sekitar kita begitu. Mendapat kasih sayang Tuhan, sampai orang lebih sering melihatnya sebagai orang aneh. Diharapkan kebaikannya karena terbiasa berbuat baik, ternyata bertingkah konyol. Tapi ketika orang-orang meremehkan, ternyata ia mampu.

Bagaimana cara Khidir mengukur derajat akal Musa, sedangkan ia baru pertama kali bertemu? Ini yang namanya karomah, kemuliaan. Para rasul memiliki risalah, para nabi memiliki nubuwah, para wali memiliki wilayah dan karomah.

Kuliah singkat Musa-Khidir ini membuat Musa belajar dalam. Bagaimana seorang manusia seharusnya berpikir. Masa kini dipengaruhi masa lalu, dan masa depan dipengaruhi oleh saat ini. Dan bisa jadi apa yang menurut kita hal kecil, ternyata efek di masa depan untuk kita sangatlah besar. Pemahaman tentang kesabaran itu membawa Musa pada derajat kepasrahan total pada Tuhan. Bahwa di dunia ini ada orang-orang dengan derajat kepasrahan begitu tinggi pada Tuhan, hingga hidupnya dituntun benar-benar oleh-Nya : Khidir. Pemahaman ini diterima Musa, digunakannya untuk melawan Fir'aun hanya 'bermodalkan' tongkat kayu. Dari mulai mengubah tongkat itu menjadi ular, sampai proses pembelahan laut merah yang 'hanya' memukulkan tongkat kayu di tepi laut. Membalas rasa malu setelah didakwa telah membunuh prajuritnya.

Bagaimana aku melakukannya, Tuhanku? Kata Musa.

Engkau turuti saja ucapan-Ku, karena sebenarnya bukan engkau yang berbuat, melainkan Aku.

Dan ayat 'wa la yaziro wazirotuw wizro ukhro' juga berlaku untuk Tuhan sendiri. Dia yang mengawali, dan Dia juga yang pada akhirnya menyelesaikan. Wa lillahil aqibatul umr.

Ash-Syu'ara ayat 20

قَالَ فَعَلْتُهَآ إِذًا وَأَنَا۠ مِنَ الضَّآلِّينَ

Berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.

Al-Haqqa ayat 20

إِنِّى ظَنَنْتُ أَنِّى مُلٰقٍ حِسَابِيَهْ

Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui perhitungan terhadap diriku.

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

www.kopiserialjon.xyz

No comments:

Post a Comment