Kisah Musa Alaihis Salam (4,-akhir) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, September 14, 2018

Kisah Musa Alaihis Salam (4,-akhir)

Kultum menjelang buka puasa
Rabu, 21 ramadan 1439 H



Asy-syu'ara, berarti syair, puisi, lagu. Berbeda dengan Asy-syuro, yang berarti musyawarah. Nabi kita Muhammad shollu alaih bukan seorang penyair, beliau tak bisa baca tulis kecuali menjelang akhir usia, apalagi menyanyikan lagu, beliau tak bisa. Tapi mengapa salah satu surah dalam qur'an diberi nama SYA'IR?

Seperti Musa yang diminta Tuhannya berdebat dengan Fir'aun dan para intelektual kerajaan, Nabi Muhammad, atau bahkan ini menjadi ciri khas tingginya keimanan seseorang, adalah ketika ia mau melakukan tindakan yang orang lain tak mau mengerjakannya. Melakukan misi, tugas hidup, yang tak disenanginya, tanpa pamrih, tanpa banyak bicara atau pun bercerita. Kullu syai'in min amriy, syahidna inni sami'na wa atho'na, semua yang Engkau jadikan itu menjadi tugasku, saksikanlah, aku akan mendengar dan mentaatinya, Tuhanku.

Musa yang nada bicaranya belepotan itu, rada gagap karena lidahnya tak sempurna - dibantu sepupunya Harun, diutus Tuhan untuk menceramahi orang yang berkuasa dan memiliki kumpulan orang-orang pintar di sekitarnya. Tentu saja ini 'candaan' Tuhan, yang ingin 'memakai' jasad Musa yang jiwanya telah terbersihkan di bukit Tursina, untuk melawan manusia yang merasa sederajat dengan-Nya.

Musa berhasil membawa kabur ratusan bani israel, kaum keturunan 12 keluarga Ya'kub. Israil dari kata 'sir', isro, perjalanan, dan EL, Tuhan : bahasa ibrani. Bahwa Ya'kub adalah orang yang senang melakukan perjalanan menyepi di malam hari untuk 'menemui' Tuhannya, atau bahasa kita berkhalwat.

Di tengah perjalanan menuju laut merah, Musa merasa sakit perut. Lalu ia berdoa dan Tuhan berkata "Pergilah ke pohon 'itu' ambil daunnya dan makanlah beberapa," Musa taat. Dan benar, setelah makan daun itu, sakit perutnya sembuh. Tapi tak lama kemudian, ia sakit perut kembali. Tanpa berdoa ia lari ke pohon itu dan memakannya banyak-banyak. Tapi bukan kesembuhan, melainkan Tuhan menegurnya, "Kau pikir yang menyembuhkanmu adalah daun pohon itu?" Musa pun menangis, taubat. Pelajaran bagi kita bahwa segala sesuatu memang sebaiknya diawali dengan mengingat-Nya, dan berakhir juga dengan mengingat-Nya kembali.

Musa membawa kabur (menyamatkan) bani Israil menyeberangi laut merah, Fir'aun tenggelam, dan terbebaslah bani Israil dari kesengsaraan, untuk sementara. Kisah selanjutnya adalah upacara pentakosta (dalam tradisi kristen), syukuran karena telah terbebas dari Fir'aun. Lalu karena berlebihan dalam menikmati kemudahan Tuhan, kaum yahudi itu kambuh sesatnya. "Wahai Musa, kami ingin melihat Tuhan kami seperti kaum-kaum yang kita lewati (selama perjalanan) itu," para penyembah patung dan dewa-dewa. Musa marah, tapi juga 'kepo' (iya yah, Allah kayak apa sih?). Musa menyendiri di puncak bukit, sembahyang, dan diizinkan Tuhan untuk bersiap Melihat-Nya, yaitu dengan meledaknya sebuah gunung yang dilihatnya (ada kemungkinan gunung toba, 5000 tahun yang lalu). Dan Musa wafat dalam kerasulannya bukan oleh ledakan itu tentunya, dengan penyesalan tak bisa membawa kaum yahudi mendapat hidayah.

Ash-Syu'ara : 21

فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِى رَبِّى حُكْمًا وَجَعَلَنِى مِنَ الْمُرْسَلِينَ

Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul.

Al-Ghasyiyah : 21

فَذَكِّرْ إِنَّمَآ أَنْتَ مُذَكِّرٌ

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

www.kopiserialjon.xyz

No comments:

Post a Comment