Kisah Ulat - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, September 6, 2018

Kisah Ulat

Kultum menjelang buka puasa
Ahad (Minggu), 11 ramadan 1439 H



Ada pemahaman yang keliru di tengah-tengah masyarakat ulat, bahwa menjadi kupu-kupu adalah hal yang menakutkan. Mereka mengejek kupu-kupu dengan sebutan monster, makhluk aneh, asing, abnormal, ulat yang kena sihir, dan sebagainya. Mitos di tengah-tengah kaum ulat, siapa yang 'berpuasa', tapa brata menjadi 'enthung' (kepompong), maka akan terkutuk menjadi kupu-kupu. Mereka, kaum ulat, membicarakan sesuatu yang mereka tak punya ilmunya. Tak paham, tapi tak mau mencari pemahaman tersebut.

Wa asaa antakrohu syai-aw wahuwa khoirulakum, wa asaa antuhibu syai-aw wahuwa syarulakum (albaqarah : 216), bisa jadi apa yang kita yakini jelek untuk kita, yang kita tak menyukainya, itu justru kebaikan untuk kita. Sebaliknya, yang kita anggap baik, kita puja-puji, kita kagumi, justru itu jelek untuk kita. Seringkali kebaikan terbungkus kovernya yang usang. Kalau begitu, apa alat ukur baik-buruk kita? Qur'an dan sunnah. Bagaimana kalau tidak tahu? Iqra, baca (al alaq:1), utluma uhiya ilaika minal kitabi wa aqimisholah (al ankabut : 45), baca dan pelajari kitab yang telah diwahyukan itu dan dirikanlah sholat. Dari dua 'alat ukur' itu, dengan akal, mudah-mudahan Allah selalu perlihatkan mana yang baik dan buruk untuk kita.

Ulat mengejek kupu-kupu, karena tak mau berdekatan lama-lama dengan mereka. Yang sebenarnya, kupu-kupu bukan tak mau, tapi memang tak bisa. Ulat bisa menjadi kupu-kupu, tapi tidak berlaku sebaliknya.

Mungkin kita pernah melihat sosok yang seperti itu : nampak baik. Tindakannya, ucapannya, pemikirannya, tapi sebaik apapun orang di dekat kita itu, lebih sering kita 'takut' (enggan) padanya. Kita seakan emoh menjadi sebaik itu, seperti ulat yang takut menjadi kupu-kupu. Tidak ada manusia sempurna di dunia ini, semua memiliki sisi lemah dan kuat masing-masing. Ulat berpuasa, menahan kesenangan yang normalnya dinikmati kaumnya. Ulat berpuasa, mengendalikan, ngerem, segala sesuatu yang biasanya dilampiaskan. Ulat berpuasa, menerima siksa, demi jalan (evolusi) yang lebih baik. Di mana kita bisa menemui jalan (kebaikan) itu? Quran dan teladan rasulullah. Nasehat dari Jalaludin Rumi : Ibarat Allah adalah air suci, dan kita adalah jubah (baju) kotor, bagaimana bisa kita menjadi bersih jika enggan mendekati-Nya? Ighfirlana, Ya Allah.

Al-Hujurat : 11

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰىٓ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰىٓ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقٰبِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمٰنِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

'Abasa : 11

كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ

Jangan begitu! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan (yang harus dipelajari),

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatik uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

No comments:

Post a Comment