Kisah Yusuf ibn Ya'kub - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, September 13, 2018

Kisah Yusuf ibn Ya'kub

Kultum menjelang buka puasa
Kamis, 15 ramadan 1439 H



Kisah yang mudah diingat, ketika seorang adik bungsu diajak kakak-kakaknya yang bersekongkol. Manusia punya hukum, dan begitupun Tuhan. Innahum yakiduwna kayda, wa akiduwkayda (Ath Thariq : 15-16).

Yang sering kita lupa adalah, bahwa orang-orang yang kita sakiti, kita kecewakan, bisa jadi suatu saat akan menjadi orang yang sangat kita butuhkan. Tidak ada manusia sempurna, kita semua punya hak untuk melakukan keburukan sebesar hak kita untuk melakukan kebaikan. Kita manusia lumrah. Dan siapa yang menyangkal ketika kita lepas kendali, terkadang memang sulit sekali untuk tidak menjadi seseorang yang mengecewakan. Kita semua memahami ini.

Begitupula kisah Yusuf ibn Ya'kub, ketika ia dibuang di sumur padang pasir. Dibuang, dijatuhkan, tertinggal sendirian. Rumus atau pola ini seakan menjadi hukum mutlak, bahwa mereka yang terbuang (diasingkan), dijatuhkan, tertinggal sendirian namun mampu bertahan, suatu saat ia akan dinaikan derajatnya sampai orang-orang tak percaya bahwa itu adalah dia. Dan berdoalah, agar orang-orang yang dulu kita sakiti itu, tak menceritakan kita pada orang-orang di dekatnya dalam kondisi itu.

Sekitar 30 tahun setelah peristiwa pembuangan itu, Yusuf menjadi gubernur yang tampan. Bijak, tampan, dan hasrat keduniawiannya telah tertundukan. Selain kisah Zulaikho, istri raja yang naksir melintir pada Yusuf, kisah rombongan kakaknya mengemis gandum adalah yang menjadi titik balik kisah hidupnya. Mereka, kakak-kakaknya tak mengenal Yusuf, dan tak mungkin percaya orang yang seharusnya mati (dibuang, dijatuhkan, ditinggalkan) justru kini menjadi seseorang yang punya kuasa. Jika Yusuf adalah kita, maka itu adalah saat ketika balas dendam terasa sangat nikmat. Tapi, tentu, Tuhannya tak mengajarkan itu. Dan berlaku kejam bukanlah sifatnya. Siapa yang mengawali dengan kemarahan, dia akan mengakhirinya dengan rasa malu (Mahatma Gandhi).

Ini adalah hukum mutlak, bahwa siapa yang direndahkan, maka akan ditinggikan, siapa yang meninggikan dirinya, maka akan direndahkan, (Lukas 18:14), wa tu'izzu man tasya wa tudzilu man tasya biyadlikal khoir (Ali Imron : 26). Dan kecelakaan terburuk buat kita yang tak pernah mau belajar dari kisah-kisah pendahulu kita.

Yusuf : 15

فَلَمَّا ذَهَبُوا بِهِۦ وَأَجْمَعُوٓا أَنْ يَجْعَلُوهُ فِى غَيٰبَتِ الْجُبِّ ۚ وَأَوْحَيْنَآ إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi".

Al-Mursalat : 15

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

www.kopiserialjon.xyz

No comments:

Post a Comment