Layl Al Qadr (4, akhir) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, September 17, 2018

Layl Al Qadr (4, akhir)

Kultum menjelang buka puasa
Rabu, 28 ramadan 1439 H

Agak susah menjadi seorang muslim yang sesuai dengan keinginan banyak orang. Kisah Lukman Hakim dan anaknya dengan seekor keledai adalah contoh bijaknya. Dituntun, naik, turun, semua salah. Bersyukurlah, kita beriman bukan karena penilaian orang lain, tapi karena memang mengikuti petunjuk Tuhan dan sang nabi. Pada mereka yang tak senang, fa'fu wasfahu, maafkan dan never mind, jangan terlalu dipikirkan.


Sama halnya dengan memaknai qur'an. Para ulama bilang kita harus memiliki setidaknya 15 kriteria (dari penguasaan bahasa arab, nahwu, tafsir, fiqh, balaghoh, dsb) sebelum berani memaknai quran, atau berijtihad. Tapi, bahkan semua imam mazhab pun berkata hampir sama dengan redaksi yang berbeda : jangan ikuti ijtihad kami jika bertentangan dengan allah dan rasulnya. Jadi bagaimana? Memaknai quran harus menguasai 15 kriteria yang sangat mungkin kita kesulitan, tapi mengikuti para Mujtahid (orang yang berijtihad) juga jangan sampai melenceng dari rasul. Dari mana kita tahu itu melenceng, jika quran dan 15 kriteria itupun kita tak tahu?

Kultum Layla al qadr terakhir, akan kita bahas makna surah al qadr secara 'serampangan'. Jangan percaya, karena jangankan pada penulis, pada para imam mazhab pun kita tak boleh taklid buta.

Inna anzal-na hu fii laylatul qadr.

Sesungguhnya Kami (siapakah 'Kami'?) anzala, menurunkan (dari apa, dari mana?) hu (dia, siapa?) pada malam al qadr (malam kemuliaan, malam 'kapasitas').

Siapakah 'Kami'?

Para malaikat.

Berapakah jumlah mereka?

Tak dapat dihitung, namun terhitung. Banyak.

Apakah mereka sama?

Tidak. Malaikat yang datang pada Ibrahim saat menjelang kelahiran Ishak berbeda dengan malaikat yang mengabarkan kaum Luth akan dibinasakan meskipun mereka datang bersamaan.

Para penurun quran, apakah mereka sama?

Tidak. Ada yang datang terdengar seperti gemerincing lonceng/bel, ada yang 'terbang' di cakrawala, dan ada yang menyerupai manusia, bahkan ada yang dihukum sampai kiamat : Harus dan Marut. Yang terakhir itu diturunkan untuk menguji manusia dengan ilmu sihir.

Siapakah yang menurunkan Quran?

Para penjaganya, dari lembaran yang terjaga, lauh al mahfudz.

Pada siapa quran diturunkan?

La yamasuhu illa al muthoharun, tidak tersentuh kecuali oleh hamba-hamba yang disucikan, dan mensucikan dirinya.

Siapakah mereka yang suci? Rasulullah dan orang-orang yang setia mengikutinya. Qod aflaha man tazzaka, beruntunglah mereka yang mensucikan diri. Wa dzakarosma robbihi fa sholla, mereka yang mengingat Tuhannya, dan mendirikan sholat. Ala bidzikrillahi tathma'inul qulb, mereka yang mengingat Tuhannya berhati tenang, karena, aqimisholah tanha anil fahsya i wal munkar, mendirikan sholat dan mencegah dirinya dari perbuatan bodoh dan kejam. Karena kesalahan dan dosa, menjadi senjata setan untuk menghalangi kekhusyuan manusia pada Tuhannya.

Anzala, diturunkan. Darimana? Ketinggian?

Itu bahasa manusia. Karena yang sebenarnya, tidak ada tinggi atau dalam, di 'wilayah' itu, tidak ada ukuran ruang lagi. Tapi quran dengan bahasa sastra yang sangat tinggi mengatakan 'diturunkan', rasulullah 'tidak mengambil sendiri' tapi dibawakan. Mengapa? Man ta'buduni ya'budu. Siapa yang melayani-Ku, Aku akan melayaninya.

Layla al qadr. Apa itu, wa ma adroka ma Layla al qadr?

Satu malam yang setara dengan sekitar 80 tahun jika manusia menggunakan waktu itu untuk menuntut ilmu, menaikan derajatnya, meninggikan kehormatannya di hadapan Tuhan. Satu malam berbobot 80 tahun belajar. Mungkin itu mengapa orang-orang yang mendapatkannya serasa sangat tua (sepuh, bijak) jika kita sedang bersamanya. Umar ibn khottob berkata : hikmah itu milik siapa saja yang mendapatkannya, dan itu tak bergantung usia.

Tanazalul malaikat wa ruh. Ruh siapa?

Rasulullah yang memimpin eksodus ruh itu dari al a'raf (ketinggian, kemuliaan) menuju wilayah manusia.

Untuk apa?

Menghibur, menenangkan bahwa beban berat (al amr, urusan) yang dipikulnya telah tercatat oleh Tuhan dan ia ditemani sang tercinta, rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Salamun hiya hatta mathla'il fajr. Kedamaian, rasa tenang dan nyaman bersama sang tercinta, rasulullah, ia rasakan sampai terbit fajr.

Nasehat dari Mbah Nun (Caknun) : Ramadan adalah bulan karantina. Medan tempur latihan, karena perang sebenarnya adalah sebelas bulan setelah itu.

Setelah perang badar, rasul berkata, "Kita telah selesai dari perang kecil dan akan menghadapi perang yang besar," ada yang bilang hadits ini dhaif, lemah. Para sahabat bertanya,"Perang yang sedemikian ngerinya engkau sebut perang kecil? Perang besar apa wahai rasulullah?"

"Jihadun nafs, jihad, perang melawan hawa nafsumu sendiri," jawab beliau.

Karena pasti, tidak ada peperangan di medan tempur tanpa strategi, tanpa persiapan. Semua peperangan harus memiliki strategi. Sedangkan melawan diri sendiri, strategi belum sempat terpikir, namun serangan bertubi datang tanpa kita siap apa-apa.

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

www.kopiserialjon.xyz

No comments:

Post a Comment