Layla Al Qadr (2) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, September 17, 2018

Layla Al Qadr (2)

Kultum menjelang buka puasa
Sabtu, 24 ramadan 1439 H



Artinya bukan seribu bulan. Layla al qadr, 'malam ukuran', waktu yang digunakan Allah untuk memberi DP, 'cicilan' kenikmatan surga sesuai kapasitas, ukuran, kadar keimanan kita masing-masing.

Mengapa malam hari? Bukankah kalau disini malam hari, di belahan bumi lain siang hari? Berarti kalau laylatul qadr disini malam, di bagian bumi sebelah barat sana (arab-afrika) terjadi di siang hari? Atau bagaimana? Seorang sahabat muda bertanya begitu.

Titik pentingnya bukan pada wilayah indera, bukan pada apa yang bisa kita lihat dengan mata atau dengar dengan telinga, melainkan penglihatan dan pendengaran dengan iman. Jika cinta yang benar akan menjadikan kita semakin baik sesuai aturan, maka demikianpun dengan iman yang benar. Itu akan menjadikan pemiliknya semakin dekat dengan-Nya. Menyampaikannya pada derajat 'la'alakum tataqun', takwa, sesuai qadr, ukuran keimanan kita masing-masing. Maksudnya bagaimana? Jika ibarat laylatul qadr adalah tingkatan surga, maka malam itu kita akan diangkat derajatnya sampai ke 'surga tertentu' sesuai qadr, ukuran keimanan kita masing-masing.

Bisa jadi, orang yang jarang tarawih di masjid mendapat derajat yang lebih tinggi dari kita yang rajin ke masjid, atau sebaliknya. Bisa saja itu tak terpikir oleh kita, yang tua dan rajin itikaf di masjid hanya mendapatkan 'sekian' sedangkan anak muda yang kerjanya kumpul-kumpul diskusi sampai sahur mendapat 'sekian' : yang lebih banyak, atau sebaliknya. Mungkin juga para ustadz dan kyai hanya mendapatkan malam qadr di bawah anak remaja yang baru baligh yang rajin beribadah dan taat pada orangtua. Dan sebagainya tanpa kita bisa campur tangan, protes, karena itu sepenuhnya hak Tuhan. Tapi, 'sekian' dan 'sekian' dejarat itu seperti apa?

Tanazalul malaikatu wa ruhu fiha, ketika malaikat dan ruh turun bergelombang mengawal sang nabi yang ingin berjumpa dengan hamba-Nya yang terpilih, yang 'qod aflahan man tazaka', mensucikan dirinya meski orang lain tidak tahu itu, 'cicilan' kenikmatan surga itu setidaknya :

1. Salamun hiya mathla'il fajr, Ibnu Abbas radliyallahu'anhu berkata : Rasulullah shallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah" (Hadist hasan). Akan ada ketenangan yang datang tiba-tiba, yang mendadak kita sangat rindu sujud, 'berbincang' dengan-Nya, dan rasa lapar akan pemahaman (ilmu).

2. Ibarat serabut kelapa yang dihaluskan, esok harinya entah ada kekuatan apa seakan kita semakin 'halus' akhlaknya. La yasma'una fiha laghwa wa la kidzaba (al waqiah 25, an naba : 35). Kita tak lagi senang dengan obrolan sia-sia, omong kosong, basa-basi, terlebih lagi dusta.

3. Malam titik perubahan, dari 'ulat' menjadi 'kupu-kupu' (seperti di kultum sebelumnya) karena malaikat dan ruh membawa balasan amal kita, sebagai 'cicilan surga'.

فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. Yasin : 54

4. Kita akan semakin jarang mengeluh, merasa kesal, capek, lesu, sekalipun hidup kita jika dipikir logika tak akan mampu kita menjalaninya dengan normal.

الَّذِىٓ أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِۦ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu". Fatir : 35

5. Bersambung...

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

www.kopiserialjon.xyz

No comments:

Post a Comment