Pendidikan pertama - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, September 13, 2018

Pendidikan pertama

Kultum menjelang buka puasa
Sabtu, 17 ramadan 1439 H



Pendidikan pertama yang seharusnya diajarkan pada anak kita adalah tauhid, tentang keesaan Tuhan. Mungkin itu mengapa saat lahir dianjurkan untuk mengadzani dan meng-iqomahi telinga kita. Bahwa suatu saat nanti kita besar jangan melupakan suara itu (adzan-iqomah), dalam artian melaksanakan kewajiban. Ashsholati imamadudin, sholat adalah tiang agama. Karena dari titik penting itulah (sholat) seorang mukmin dapat diukur derajat kemanusiaannya.

Mengapa orang-orang melaksanakan sholat, tapi wataknya sulit sekali berubah? Atau pertanyaan orang-orang putus asa, mereka yang sholat saja bejat, mending tak usah sholat saja! Bagaimana itu?


Utluma uhiya ilaika minal kitabi wa aqimisholah, baca dan pelajari kitab suci dan dirikanlah sholat. Inna sholati tanha anil fahsya i wal munkar (ankabut : 45), sholat sesungguhnya mencegah perbuatan keji dan mungkar. Sholat yang bagaimana?

Hampir di setiap ayat aqimisholah, dirikanlah sholat, itu diikuti oleh 'wa amilusholihat' dan kerjakanlah amal baik / dan berbuat baiklah. Karena memang itu satu paket. Sholat adalah titik penting seseorang untuk 'berlatih', mensucikan diri, bersiap menjadi diri yang lebih baik dari sebelum kita sholat. Dan setelah melakukannya kita membawa cahaya sholat ke dalam kebiasaan hidup kita. Merasa diawasi selalu oleh Tuhan bukan hanya ketika sholat, tetapi juga setelahnya.

Bayangkan jika pemahaman itu ditanamkan sejak kecil pada anak-anak kita. Bisa jadi, suami atau istri kita tak begitu susah untuk dipahamkan betapa penting tindakan itu (sholat). Wasta'inu bishshobri wa sholat, mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat. Apa yang diajarkan rasul pada kita, tiap ada persoalan yang akan diselesaikan, rasulullah pasti melakukan sholat dua rokaat lebih dulu. Ini tentang kepasrahan, ketundukan, bahwa seakan kita laporan pada yang punya hidup lebih dulu tentang masalah yang akan kita hadapi.

Iqomah dari kata qo-wa-ma, yaqumu, iqomah, qiyamah (kiamat), atau kebangkitan. Adzan, sampai iqomah, adalah satu rentang waktu bahwa kita tak mungkin disini (hidup) terus menerus. Jika yang sholat saja sulit sekali terlepas dari kesalahan dan dosa, maka bagaimana dengan yang enggan dan mengelak bahwa suatu saat iqomah (qiyamah) akan dikumandangkan di telinga kita masing-masing. Itulah hari yang sangat mengagetkan. Lebih mengagetkan daripada suara petasan tiba-tiba anak-anak tetangga kita.

Luqman : 17

يٰبُنَىَّ أَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Al-Muzzammil : 17

فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدٰنَ شِيبًا

Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap mengelak kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban (qiyamah).

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

www.kopiserialjon.xyz

No comments:

Post a Comment