Prasangka - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, September 8, 2018

Prasangka

Kultum menjelang buka puasa
Selasa, 6 ramadan 1439 H



Dalam satu penyampaiannya, Caknun (Emha Ainun Nadjib) mengatakan, "Bersyukurlah dengan ketidaktahuan yang kita miliki. Karena jadi manusia itu tak harus mengetahui semuanya, segala sesuatu. Pecah ndase kalau semua ilmu Allah manusia tahu. Kalau saja bisikan pikiran atau hati seorang istri diketahui oleh suaminya, atasan pada bawahan, anak pada orangtua, atau sebaliknya, dan sebagainya, kalau saja tidak ada hijab (penutup) antara pikiran dan hati sesama manusia, umat manusia akan lebih kacau daripada ini,"

Bisa bayangkan, istri atau suami kita selalu mendengar bisikan hati dan pikiran kita ketika ngresula (mengeluh)?

Dalam dunia ilmiah ada yang namanya asumsi, prediksi, konklusi. Asumsi adalah dugaan yang sama sekali tak boleh dijadikan sandaran. Kata orang jawa 'kulak ndean kanda jare'. Ini 'ilmunya' para manusia derajat rendah. Prediksi adalah kemungkinan-kemungkinan yang didasari fakta, data, saksi, tapi belum begitu sempurna atau penuh. Konklusi adalah kesimpulan berdasarkan pertimbangan akal sehat dan iman yang mantap.

Dalam pendidikan agama, antara ilmu dan ketidaktahuan ada prasangka. Kita, manusia diseret-seret oleh musuh abadi (aduwwum mubin) manusia, yaitu setan, agar kita lebih percaya pada prasangka, dugaan, asumsi yang tak jelas kesimpulannya. Sebaliknya, yang sebenarnya harus kita lakukan adalah belajar untuk tahu bahwa kita tahu, dan belajar untuk tahu bahwa kita tidak tahu. Jangan pernah merasa tahu sesuatu yang sebenarnya kita tak tahu, dan jangan merasa mampu bahwa apa yang kita tak tahu ketika memaksa diri untuk tahu ternyata kita tak mampu menanggung pengetahuan itu. Semisal kita ingin tahu tugas presiden apa, tugas kyai apa, tugas insyinyur apa, tapi ketika kita diberi pengetahuan, kita menyesal mengetahui itu. Ada wilayah akal, pengetahuan. Ada wilayah iman yang hanya perlu kita terima begitu saja. Ada wilayah diri sendiri, ada wilayah orang lain yang kita cukup mendoakannya ketika Tuhan membukakan aibnya pada kita.

Al-Hujurat : 12

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

No comments:

Post a Comment