Pre-tes, Exam, post-tes - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, September 13, 2018

Pre-tes, Exam, post-tes

Kultum menjelang buka puasa
Minggu, 25 ramadan 1439 H



Sebelum manusia dilahirkan, ada semacam 'pre-tes' yang diberikan di alam ruh sana. Alastu bi robbikum? Qolu bala, syahidna (al a'raf : 172). "Apakah Aku ini Tuhanmu?" Kita berkata, "Benar, aku bersaksi'. Tapi karena memang dunia ini serasa nikmat, kita pun lupa.

Lalu, dilahirkanlah oleh izin Tuhan kita ke dunia ini. Untuk menguji, apakah kita memang setia dengan janji kita dulu - saat di alam ruh sana, dan membuktikan apa benar kita tak tersesat dengan seksinya dunia ini. Liyabluwakum ahsanu amala (al Mulk : 2), menguji siapa di antara kita yang amalnya paling baik. Yang kita tak tahu, bahwa orang-orang yang paling baik amalnya, biasanya mereka orang yang 'menyebalkan'. Menghijabi diri di depan orang agar terlihat sebagai orang awam, 'pelit' ngomong, tapi ternyata dia memiliki posisi khusus di hadapan Tuhan tanpa kita ketahui. Robbi anzilni munzalan mubarokah, wa anta khoirul munzilin (al mu'minin : 29). Posisi yang ia dapatkan dari lulusnya ia dari tiap ujian-ujian yang datang. Beda antara sekolah lembaga dengan sekolah kehidupan ada di sana : di sekolah kita belajar dulu, baru ujian. Di sekolah kehidupan, kita diuji dulu baru biasanya mau belajar. Kecuali mereka yang keras kepala, tak paham bahwa ujian itu datang untuk mensucikan dirinya, tapi bahkan ia menjadi semakin keras kepala. Man dlola, qolu innama ana minal mundzirin (an naml : 92), siapa yang sesat, sebenarnya tugas kita hanyalah saling mengingatkan.

Ada beda antara ujian dan azab (siksaan), sekalipun seakan rasanya sama. Ujian datang setidaknya untuk dua hal ; menaikan derajat kita, atau membersihkan kotornya (katakanlah, dosa) jiwa kita di waktu yang lalu. Sebaliknya, azab, pasti untuk mensucikan diri kita. Tapi di tengah-tengah itu ada yang namanya 'istijrad', dibiarkan dalam kesesatan, dosa, keburukan watak. 'Dijorna' oleh Allah, dibiarkan, sampai batas waktu tertentu. Kita tak munafik, bahwa teguran dari Tuhan itu sangat menyiksa, menyakitkan, tapi itu datang pasti karena cinta Tuhan pada kita. Bahwa peringatan itu baik, bahwa teguran itu perlu, agar kita tak melampaui batas. Wa dzakir fa inna dzikro tanfa'ul mu'minin (adz dzariyat : 55), berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat untuk orang beriman. Saling tolong menolong dalam mengingatkan kebaikan.

Semua orang akan mengalaminya, tanpa terkecuali. Ujian demi ujian hidup yang bisa jadi saking tersiksanya kita merasa putus asa. Dan post-tes manusia sebelum beristirahat tenang di alam kubur datang dari Munkar dan Nakir, dua utusan yang memberi lembaran tes terakhir : siapa Tuhanmu, nabimu, kitabmu, saudaramu. Terdengar sepele, tapi itu akan berat, karena tiap sel tubuh kita-lah yang menjawab dengan sangat jujur, bukan oleh pikiran kita yang senang berkelit.

Al-Anfal : 25

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَآصَّةً ۖ وَاعْلَمُوٓا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Ash-Saffat : 25

مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ

"Kenapa kamu tidak saling tolong menolong?"

Selamat menunggu maghrib dan berbuka puasa. Dzahaba dzoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insya allah.

#share☕☕☕😊

www.kopiserialjon.xyz

No comments:

Post a Comment