A sword (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, October 23, 2018

A sword (esai)

11 Mei 2015 pukul 22.07

"Apa yg kau pilih : biji benang (tasbih), uang, atau pedang?" tanya guru Jon. 
"Aku pilih pedang, guru," 
... 
Sebelum si Jon merantau, ia ditawari oleh gurunya : tasbih, uang, atau pedang. Bukan dalam makna yg sebenarnya, tapi secara simbolik. Murid polosnya itu memilih pedang bukan karena ia pemberani. Sebaliknya, karena ia merasa lemah, ia memilih pedang. Simbol perlawanan, perlindungan diri orang-orang lemah. Karena baginya, lebih baik hancur bersama orang-orang yg tertindas. Daripada memilih hidup dengan menyembunyikan pedang ketika itu harus terangkat tinggi. 

Ia memilih bertempur bukan karena ia memang senang. Seringkali agar seseorang kuat, ia harus melakukan apa yg tak ia senangi demi banyak orang. Ia bertempur karena tuntutan zaman. Tak peduli Tuhan akan membela atau bungkam. Tak peduli orang-orang berpedang di sampingnya memilih diam. Ia akan tetap maju, dengan resiko yg siap ia telan. Luka yg menyayat jiwanya, membuat kematian terasa ringan. Baginya, tak ada yg lebih memuaskan dari pengorbanan hidup demi banyak orang. Tak peduli ia kan teracuhkan. Tak peduli orang kan menganggapnya gila. Seperti ketika Don Quixote ditanya oleh pembantunya, "Sudahlah tuan, jaman ini tak membutuhkan seorang ksatria lagi. Tuan teranggap gila oleh orang lain," 

Don Quixote pun membalas, "Jika bukan aku yg menjadi ksatria, siapa yg akan berani selanjutnya? Biar aku teranggap gila. Seringkali orang melihat apa yg sebenarnya terjadi dalam dirinya. Biar aku seorang saja yg gila, agar mereka tetap dalam pandangannya yg buta," 

Seperti ketika setan diminta bertobat, "Bertaubatlah engkau," 
Jawab setan,"Jika aku bertaubat, pada siapa manusia akan menyalahkan? Bukankah manusia terlalu pengecut untuk mengakui kesalahannya sendiri?"

No comments:

Post a Comment