Hal-hal picisan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, October 20, 2018

Hal-hal picisan

Tanda tingginya kecerdasan seseorang bukan hanya kemampuannya menertawakan dirinya sendiri, tetapi juga ia kembali seperti anak-anak. Apa yg diucapkan dan apa yg ada dipikiran/hatinya, sama. Ia tak bisa berbohong lagi dan berpura-pura dalam kebenaran._Jon Q_

Sebuah riwayat mengisahkan tentang seorang komandan romawi yg tertawan pasukan Umar ibn Khottob. Si komandan tak mengira, bahwa 'sang raja', Umar, tak nampak seperti pemimpin-pemimpin di eropa sana. Jubahnya lusuh, tambalan, tertidur di teras masjid. Tak ada yg bisa menggantikan cintanya pada rosulullah dan Tuhan. Ia, seperti para sahabat utama lainnya, totalitas meneladani sang nabi.

Cucunya, Umar ibn Abdul Aziz, lebih 'konyol' lagi. Ia menjadi raja miskin, yg tak bisa tidur bahkan hanya karena bayangan unta yg tak selamat dalam perjalanan di wilayahnya. Ia pemimpin negara, yg masuk daftar orang-orang penerima zakat.

Zaman berganti, waktu berubah, mengubah manusia terlalu jauh dari yg semestinya. Hal-hal kemewahan dipamerkan, ketololan tingkah manusia terus dikabarkan media, umat manusia ling-lung tak paham lagi mana yg baik dan yg buruk. Zaman telah menjadikan manusia hidup keterlaluan, berlebihan, saat seseorang ingin meneladani nabi yg sederhana, ia teranggap asing.

Manusia telah mengkerdilan jiwanya demi dunia. Hal-hal picisan menjadi prioritas. Keinginan mengatasi kebutuhan. Dunia yg telah rusak pun tetap terlihat menawan.

"Kau tak bisa seenaknya begitu menentukan acara pernikahanmu!" kata seorang saudara Jon. "Istrimu punya keluarga, kau juga. Dia ingin menjadi ratu barang sehari saja. Dan kau, statusmu kini mengharuskan acara yg besar,"

"Akan aku cari wanita lain yg totalitas mengikutiku meneladani nabi," jawab Jon. "Akan aku jadikan ia ratu seumur hidup, ibunda masyarakat, yg menjadi diriku dalam wujud yg lain. Akan aku lepas status ini, jika itu menjadi penghalangku untuk mengikuti jalan nabi," ia telah memahami jauh hari sebelumnya, tentang jalan hidup yg akan ditemuinya kelak. Ia ingin kehidupannya menjadi tamparan untuk orang-orang kaya, pada siapa sebenarnya dunia mereka diperuntukkan. Menjadi tamparan para ulama, harus seperti apa seharusnya mereka menjalani hidup. Dan tamparan bagi para pejabat, harus seperti apa mereka melayani manusia. Semoga bukan mimpi utopis si Jon saja.

No comments:

Post a Comment