Hati ataukah Otak Nabi yang dioperasi? - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, October 29, 2018

Hati ataukah Otak Nabi yang dioperasi?



"Bagaimana bisa Tuhan marah pada manusia, pertama, ampunannya akan selalu lebih besar daripada kesalahan manusia sebesar apapun itu. Kedua, jika Tuhan bisa marah, ia sama dengan makhluk-Nya. Bagaimana bisa manusia menyembah Tuhan yg sama dengan dirinya?" pertanyaan dari seorang adik, pada Jon.

Satu sms masuk, saat Jon dan tiga rekan gurunya ngopi di kantin. Sejenak ia tak membalas, merenungkan apa yg ditanyakan adiknya itu. Obrolan dengan teman-temannya menjadi tak fokus.



"Jika yg mengatur segala sifat buruk ada di sistem limbik - otak, mengapa yg dibersihkan malaikat justru hati rasululloh, bukan otaknya?"
Jon termangu. Tak menyangka akan ada pertanyaan cerdas dari apa yg pernah ia jelaskan.

"Kau ingat hadits tentang 'al alaq'?" balas Jon.

"Oh, yg 'jika segumpal darah ini baik, maka akan baik pula perilakunya' dan sebaliknya, ya?"

"Tapi, itu asumsiku saja. Limbik hanya mengirimkan 'darah kotor', darah yg tercampur perasaan marah, benci, dll, dari limbik."

"Oo.. Itu mengapa hati disebut penawar racun, ya? Dan racun itu bukan cuma dari eksternal tubuh, tapi juga dari dalam tubuh kita?"

"Aku kira begitu. Cuma, yg aku belum yakin, apa benar hati rasul disucikan secara harfiah? Aku malah mengira, ia diberikan kemampuan pikiran untuk memperbanyak hormon-hormon kebaikan yg membuatnya 'maksum',"

"Hormon kebaikan yg membuatnya maksum? Maksudnya?"

"Jika hati dalam menawarkan racun membutuhkan endorfin, maka untuk mencegah seseorang melakukan kecerobohan fatal adalah serotonin yg berperan,"

"Tambah nggak ngerti, Mas. Hehe,"

"Ia tetap bisa berbuat salah, misal turunnya surah Abasa, dan saat ia kena tegur setelah bersumpah tak akan memakai kamar Hafsah lagi untuk berduaan dengan istri yg lain - Maria Al Qibtia. Tapi, tiap ia akan melakukan kecerobohan fatal, ada 'sesuatu' dalam diri yg mencegahnya,"

"Misalnya,"

"Waktu awal usia 20-an, rasul ingin masuk tempat semacam 'diskotik' (jangan bayangkan seperti apa jaman itu), tapi mendadak ia tertidur. Terlepas dari riwayat itu sahih/tidak, itu bisa menjadi bukti,"

"Eh, tapi, saat surah Abasa turun, itu Allah bukan lagi marah kan, ya? Aku tak percaya Ia bisa marah,"

"Alasannya?"

"Pertama, ampunannya selalu lebih besar. Dua, jika Ia bisa marah, prinsip 'Mukholafah lil hawadits', berbeda dengan makhluknya akan gugur. Jika Ia marah, maka itu sama dengan makhluk-Nya - manusia,"

"Hehe, maksudnya, emm.. Kita ambil ayat 'ittaba'uw maa askhotallah', mereka mengikuti apa yg menimbulkan kemurkaan Allah. 'Murka-Nya', diartikan sebagai hukum kepastian alam, bahwa apa saja yg dirusak oleh keburukan akan menimbulkan bencana/musibah. Dan 'Allah' dalam ayat itu adalah kemahagaiban di balik bencana itu. Mengapa gaib? Bagaimana bisa, akal kita menyimpulkan bahwa musibah yg datang adalah karena kemarahan Tuhan? Bukankah akal kita terbatas?"

No comments:

Post a Comment