Terasing - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, October 20, 2018

Terasing

Aku memilih babak belur di dalam sebuah pertempuran, daripada mengatasnamakan keselamatan sebagai topeng kalahnya mental terhadap bayangan ketakutan._Jon Q_ 


Beberapa komentar facebook dan inbox tak ku balas semalam. Sampai dini hari, aku dan temanku, Jon, berdebat panjang tentang perjuangan yg kami lakukan bersama. Terasa seperti Soekarno dan Hatta yg bertengkar di gedung parlemen, tapi mesra di saat makan pagi. Atau seperti Soekarno dan Natsir, yg terus berseberangan pemikiran, tapi saling mengagumi diam-diam. 

"Aku kira ini sudah berakhir, tapi ternyata aku hanya punya waktu sampai sebelum ramadan untuk memahamkan keluargaku tentang perjuangan yg belum boleh berhenti," kata Jon mengawali. 

"Lho, bukankah memang sudah begitu seharusnya?" aku menanggapi, serius. "Infiru khifafa wa tsiqol, wa jahidu bi amwalikum wa anfusikum fii sabilillah, Jon," 

"Mengapa bukan orang lain saja?" balasnya. "Ayat itu sudah tak berlaku lagi di jaman ini. Sebagian qur'an memang sudah seharusnya dibakar," 

Cukup mengagetkan. Tapi aku paham, ia bukan lagi manusia yg takut pada dosa atau mengharap pahala dan surga. Ia manusia yg telah lepas dari penjara imbalan apapun dari Tuhan, dan terbebas dari ancaman dosa dan neraka. Jadi percuma saja, berdebat tentang dosa dengannya yg menganggap qur'an sudah tak terpakai. 

"Apa yg kau harapkan, eh? Menginginkan dunia ini seperti surga, tidak ada derita, penindasan, ketidakadilan? Naif sekali kau ini!" aku mulai emosi. 

"Manusia seperti aku ini seharusnya hanya memikirkan diri sendiri," ia tak henti pesimis. "Mengapa bukan orang lain saja yg lebih kuat? Konyol benar keputusan Tuhan ini," 

"Cara berpikirmu itu kenapa, Jon? Lebih besarlah! Seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri, apa yg tersisa dari dirimu jika tidak untuk mengorbankan diri di hadapan Tuhan?" 

"Mengapa aku, eh? Mengapa kita?" 

"Kau berharap pada siapa, hah? Kau berharap semua orang tersadar dengan pembodohan ini? Dengan penderitaan dan ketidakadilan bangsa ini? Kau tak bisa memaksa seekor ayam untuk terbang setinggi elang!"

No comments:

Post a Comment