Teruslah mengalir - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, October 4, 2018

Teruslah mengalir

Di sana - surga, mengalir sungai-sungai yg tak pernah menggenang._Qur'an_

Senja hari itu Jon hendak pulang dari kota yg pernah mendidiknya. Ia sengaja mampir ke Gasibu, lapangan depan Gedung Sate, tempat bapak gubernur bekerja. Bersama seorang adik kelas dan sahabatnya, mereka berbincang ditemani kopi hangat.

"Sampai saat ini, saya masih berpikir tentang moral komunal generasi penerus yg akan semakin merosot," katanya mengawali. "Untuk apa mendidik jika pada akhirnya mereka - anak-anak kita, terpengaruh kembali oleh lingkungannya?"

"Aku juga pernah kok berpikir begitu," kata Jon. "Untuk apa kita berjuang keras, menciptakan karya, tapi pada akhirnya itu akan hancur juga bersama dunia. Kita melawan kontradiksi hidup, kita paham tak ada yg kekal dalam dunia ini, tapi kita juga dituntut untuk membedakan diri dengan mereka yg mati,"

"Membedakan diri dengan yg mati?"

"Iya, coba, apa bedanya kita dengan mereka yg sudah dikubur?" kata Jon.

"Ya... Mereka tak bisa bergerak?"

"Apa kualitas manusia yg membedakan kita dari mereka? Mereka tak bisa bermanfaat lagi untuk manusia - maka harus cepat dikubur, mereka tak bisa berkarya. Apa bedanya jika kita juga begitu?"

"Tapi, bukankah tugas kita, guru, menjadikan anak-anak kita bermoral? Di sisi lain, orangtua dan kepala sekolah menuntut prestasi yg sudah ditargetkan," kata sahabat Jon.

"Coba, tugas guru itu apa menurutmu?" tanya Jon.

"Yaa... Mengajar, menjalankan aturan lembaga pendidikan,"

"Oke, mengajar. Siapa yg diajar? Siswa? Selalu-lah awali dari diri kita sendiri. Bagaimana bisa kita mengajarkan hitam dan putih, misalnya, pada siswa jika kita juga belum memahaminya? Tugas guru bukan menjadikan siswa pintar, baik, sesuai kurikulum. Tugas guru menanamkan benih alam berpikir pada mereka, jika sekalipun mereka tanpa guru, pikiran mereka akan menuntun hidupnya,"

"Tapi, kenyataannya siswa yg mampu berpikir mandiri, tak selalu berprestasi. Bagaimana memahamkan orangtuanya, dengan anaknya yg tak sepintar anak lain? Bagaimana menjelaskan pada kepala sekolah tentang target yg tak tercapai?"

"Lihat sahabatmu ini. Pernah tinggal kelas, sekolah di SMA paling sekarat saat itu. Guru harus paham, proses itu membutuhkan waktu yg tak selalu pendek. Orang menuntut hasil, tapi kita membutuhkan proses, karena darisana kematangan jiwa terbangun. Pada orangtua siswa? Itu tugas guru selanjutnya setelah mengajar diri sendiri, siswa, lalu orangtua. Pahamkan, kecerdasan manusia tak boleh sama. Karena begitu banyak bidang kehidupan yg membutuhkan kecerdasan yg beragam. Pada kepala sekolah, buat evaluasi, sebagai alat ukur ketercapaian. Jika siswa mampu berpikir, ia akan melawan lingkungannya yg tak membuatnya nyaman," jelas Jon. "Kalau skripsimu bagaimana?"

"Masih malas nih, haha,"

"Berarti penakut,"

"Lho, takut apa?"

"Takut melawan kenyamanan demi kenyamanan yg lebih besar,"

"Maksudnya?"

"Misal, kita lagi main gitar. Lalu kita malas mengerjakan tugas. Itu bukti, kita takut kehilangan rasa nyaman bermain gitar dengan mengerjakan tugas itu,"

Dia terdiam.

"Di surga, ada sungai-sungai yg mengalir tak pernah menggenang. Itu simbol, bahwa orang-orang yg telah mendapatkan surganya, adalah orang-orang yg tak pernah 'menggenang', diam dalam kenyamanan. Ia mengalir, dari satu perjuangan ke perjuangan lainnya. Di antara kenyamanan dan kenyamanan yg lebih besar, di tengah-tengahnya ada perjuangan yg melelahkan. Dan kita tahu, para penakut bukan hanya menolak berjuang, tetapi juga tak mau merasa capek, lelah,

No comments:

Post a Comment