Ustadz asli dan palsu - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, October 26, 2018

Ustadz asli dan palsu

10 Mei 2015 pukul 18.57


Jangan hanya karena anda ustadz, dan masyarakat itu kaum awam, anda seenaknya saja menceramahi apa yg tidak mencerdaskan dan tak menyentuh kehidupan praktis mereka._Jon Q_ 

Sudah lama sebenarnya si Jon memintaku menuliskan kemarahannya perihal 'ustadz asli dan palsu'. Tapi karena mungkin aku takut, baru ini bisa aku tuliskan. Semoga ruh Jon diterima di sisi-Nya (Lah?). 

"Sampun nimbali kulo 'ustadz', nggih bu," kata Jon di tiap mengisi pengajian. Dia anak muda aneh, jadi wajar bahasa planetnya fasih. "Kalau orang-orang yg tak layak disebut ustadz kita anggap sebagai ustadz, nanti ustadz yg sebenarnya akan tertutupi oleh orang-orang itu. Ustadz-ustadz asli tak akan terlihat jika di masyarakat ustadz-ustadz palsu mewabah," si Jon menganggap dirinya si ustadz palsu. Dan mengapa wabah? Orang yg dekat-dekat dengannya pasti terkena penyakit jiwa. Menjadi gila seperti si Jon itu. 

Ia tak senang diberi label, sebutan, yg berbau agama. Terlebih lagi panggilan ustadz. 

"Geli gue dengernya," suatu sore cerita padaku. "Yg gue lihat, sebutan itu untuk orang-orang yg tertutup pikirannya terhadap kemajuan, filsafat, orang-orang sensitif yg tiap fatwanya harus ditaati. Ogah deh, gue merasa jadi bayangan Tuhan," pemikirannya memang rumit. Mungkin itu yg menjadikan para gadis, semenjak SMA, menyukainya tapi takut dengan pemikirannya yg berbeda dari keumuman. 
Dia cerita tentang seorang ustadz asli dari kaki gunung sana. Saat ia diminta mengisi pengajian, di atas panggung ia bikin para pengunjung kebingungan. Si ustadz gemblung/sableng, julukannya. 

"Bapak-ibu para jamaah tahu, saya akan ceramah tentang apa?" kata sang ustadz. 

"Tahuu.. Tentang isra mi'raj.." jawab jamaah. 

"Kalau sudah tahu, buat apa saya ceramah?" 

Hening. 

"Kalau ingin dengar ceramah, setel bae kaset. Bukankah ceramah itu cukup untuk di dengarkan?" 
Jamaah celingukan. Ini ustadz ambil dari rumah sakit jiwa mana sih? 

"Saya diminta bicara oleh panitia, tentang apa yg ingin jamaah tahu," katanya lagi. "Saya bisa ceramah, tapi saya benci. Saya datang kesini untuk dialog, dua arah, apa yg ingin bapak-ibu ketahui tentang isra mi'raj. Jika ada ustadz yg enggan banyak ditanya oleh jamaahnya tentang ilmu agama, ya jangan jadi ustadz," 

Si Jon yg saat itu datang, kepalanya tertunduk. Seakan dia yg bicara di podium sana.

No comments:

Post a Comment