Bidak - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, November 18, 2018

Bidak


Bersiaplah dengan bidak catur yg tak kau perkirakan arah geraknya. Aku sendiri tak ingin memainkan permainan yg aku tak dapat memenangkannya. Aku berdoa, semoga kau benar-benar beruntung kali ini._Guru Jon_

"Apa kau telah menghitung banyak hal?" tanya guru Jon tentang persoalan pelik yg masih muridnya hadapi akhir-akhir ini. "Kau sudah buat probabilitas arah gerak permasalahanmu itu?"

"Sudah, guru," jawab Jon. "Secara perhitungan normal, kita telah memberi 'skak' pada mereka. Tapi, seperti yg guru katakan, aku harus bersiap dengan bidak yg tak terpikirkan arah majunya,"

"Apa hanya itu yg kau pikirkan hari-hari ini?"

"Em, maksud guru?" tanya Jon.

"Aku tak yakin, kau tak mendapat satupun 'hikmah' (kebijaksanaan) dari permasalahan itu,"

Jon tersenyum, ia tahu gurunya mengerti benar kapasitas berpikir muridnya.

"Ada guru, tapi sepertinya bukan kebijaksanaan,"

"Apa itu? Boleh aku tahu?"

"Aku sedang mencari persamaan (rumus) untuk para pejuang kehidupan, agar mereka yakin bahwa perjuangannya pasti terwujud meski tak harus cepat,"

Sang guru terdiam.

"Coba kau jelaskan lebih dalam," pinta gurunya Jon.

"Seseorang yg sedang berjuang, tak boleh hanya bersandar pada keyakinan bahwa apa yg diperjuangkannya pasti terwujud. Tetapi juga semacam 'penglihatan jauh', kemungkinan terbesar, setelah melakukan perjuangan yg berat dan melelahkan, ia akan berhasil,"

"Seperti perhitungan probabilitas itu?" tanya guru Jon lagi.

Jon mengangguk.

"Semacam itu," kata Jon. "Tapi, persamaan ini harus universal. Agar semua pejuang kehidupan di berbagai negeri, berbagai bidang, ketika mengerti tentang persamaan ini, mereka tak takut lagi dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk,"

"Jadi, seperti sebuah 'kado' tentang masa depan yg tersusun dari fase perjuangan yg dilakukan?"

"Iya, tapi, emm... Aku belum menemukan simbol-simbol dan perhitungan yg tepat,"

"Tepat? Apa itu berarti 'kepastian'?"

"Eh? Iya," seakan Jon mengingat sesuatu. "Ini tidak harus tepat, tapi cukup dengan 'mendekati' saja?"

No comments:

Post a Comment