Jon Quixote II (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, November 11, 2018

Jon Quixote II (esai)


Aku memaafkanmu, setan. Aku selalu memaafkanmu tiap kali kau menjatuhkanku, membuatku ceroboh, menghinakanku. Tapi, memaafkan dan tak membencimu bukan berarti aku berhenti melawanmu. Cahaya dan kegelapan tertakdir berdampingan, tapi tak boleh bercampur. Kau bekerja untuk menyesatkan-menghinakanku, dan aku berikhtiar terus melawanmu tanpa benci dan kemarahan. Aku mencintaimu, setan - sungguh, dengan cara terus melawanmu._Jon Q_

Pejuangan Jon bersama keluarga dan guru-guru sekolahnya memasuki babak baru. Umpan 'difraction' (pengecoh) yg dia lemparkan tertelan mereka. Untuk saat ini, keadaan mulai tenang setelah di mediasi lembaga negara tingkat kota. Tapi, itu hanya sementara. Jika 'umpan' yg Jon berikan disadari mereka, akan terjadi lagi pertempuran kepentingan di antara mereka. Bedanya, dulu Jon harus menerima bayangan ketakutan pengusiran sekolah dan hak ayahnya yg terambil, tapi kini, dengan 'kelicikan' si Jon, mereka tak punya dalih/tuntutan apa-apa lagi. Mungkin, mungkin, mereka akan kembali ke cara lama : meneror calon orangtua siswa.

Dalam renungannya yg begitu sunyi, sesosok setan mendatangi Jon.

"Hitunganmu cerdas, aku bahkan sempat tak mengerti mengapa kau seakan membahayakan sekolah dan keluarga besarmu," kata setan. "Tapi, kau mengatur 'bidakmu' tepat. Kau memang 'licik',"

"Aku harap itu pujian," kata Jon. "Tapi, jika kau mengira aku akan terbuai, kau salah. Mungkin benar aku kejam, tapi, aku banyak belajar darimu,"

"Kau pikir mereka akan menyerah? Justru yg aku lihat, kau terjebak dalam bidak catur yg kau atur itu,"

"Begitupun kami, tak akan menyerah." kata Jon. "Aku memaafkan mereka meski telah menghina dan mencurangi ayahku, aku juga memaafkan kelicikanmu. Tapi jika itu tentang 'menyerah' atau tidak, tentu jawabanku tidak. Selama aku hidup, akan ku cari apapun cara untuk mengembalikan kebahagiaan orangtuaku, sampai ajal datang, dan kau, juga mereka, akan tahu betapa sulit kami untuk ditundukan,"

No comments:

Post a Comment