Mari, berjatuh cinta lagi - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, November 10, 2018

Mari, berjatuh cinta lagi


Bohong besar ketika aku katakan 'cintaku tak menuntut balas'. Karena cinta pasti menuntut. Seorang suami tak mungkin tak menuntut istrinya untuk selalu menjaga pandangan dan hati, begitupun sebaliknya. Maka cinta antara dua manusia disimbolkan dengan cincin kawin, sebuah lingkaran sempurna, bukti kejujuran cinta yang utuh. Beda dengan kasih dan sayang, ar rahman dan ar rahim, karena Tuhan mengasihi dan menyayangi tanpa pernah menuntut balas.


"Jangan sampai kau mendapatkan cinta Tuhan," kata Jon pagi setelah subuh itu.

"Lah, memang kenapa? Bukannya semua ibadah kita agar mendapatkan cinta-Nya?" balasku menanggapi.

"Cinta itu menuntut, dan menginginkan kepemilikan," kata Jon. "Kalau Tuhan mencintaimu, kau bisa gila dengan semua tuntutan-Nya dan kecemburuan-Nya saat kau berpaling sedikit saja dari-Nya,"

Aku terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan orang gila di sampingku itu.



"Berarti, itu mungkin alasan mengapa para kekasih Tuhan bertingkah 'aneh' dan 'tak normal'?" tanyaku.

"Itu yang aku maksud,"

"Tapi bagaimana dengan cinta personal antara pria dan wanita?"

"Bagaimana apanya?" tanya Jon balik.

"Yak, apa termasuk cinta yang menuntut balas dan ingin memiliki?"

"O pasti," jawabnya mantap.

"Berarti dulu kau bohong waktu masih awal dewasa, saat jatuh cinta pada wanita yang kau sukai?"

"Bohong besar ketika aku katakan 'cintaku tak menuntut balas'. Karena cinta pasti menuntut. Seorang suami tak mungkin tak menuntut istrinya untuk selalu menjaga pandangan dan hati, begitupun sebaliknya. Maka cinta antara dua manusia disimbolkan dengan cincin kawin, sebuah lingkaran sempurna, bukti kejujuran cinta yang utuh. Beda dengan kasih dan sayang, ar rahman dan ar rahim, karena Tuhan mengasihi dan menyayangi tanpa pernah menuntut balas."

"Tapi, kau kan tak sampai menikahinya?" tanyaku lagi.

"Karena aku menyayanginya,"

"Lho, cinta, menyayangi, maksudnya gimana toh?" tanyaku lagi semakin tak paham.

"Justru karena cintaku dengan rasa sayang, aku tak menikahinya. Akan dapat apa dia jika hidup denganku yang 'tak modern' ini? Hidup seperti apa yang akan ia alami jika bersamaku berada dalam 'jalan hidup' ini?"

"Jadi, kau memilih tak menikah?"

"Bodoh, memiliki hati dengan kasih dan sayang bukan berarti tak bisa menikah," katanya membela. "Aku akan menikah dengan ia yang telah ku hembuskan rasa kasih sayang dalam hatinya. Yang dengan rasa itu, cintanya memiliki kesadaran, bagaimana hidup seorang Jon Quixote,"

"Tapi, bagaimana dengan orang yang saling jatuh cinta, tapi enggan menikah?"

"Itu proses pemahaman. Untuk sampai pada pengertian cinta yang mendalam, seseorang harus melewati kekacauan perasaan dan pikirannya sendiri saat jatuh cinta," Jon menjelaskan. "Dan setelah kekacauan itu lenyap, baru akan terlihat, apakah cintanya itu benar - yaitu dengan dibuktikan keseriusannya berrumah tangga, atau hanya sekedar main-main,"

"Dengan apa membuktikan keseriusan cinta itu?"

"Mendatangi keluarganya, memakaikan cincin kawin di jari manis mereka yang saling cinta,"

"Tapi jika ternyata main-main?" tanyaku.

"Maka kerugianlah untuk si perempuan,"

"Jadi, mending tak usah pacaran untuk si perempuan?" aku tambah penasaran."Ada 'harga' (konsekuensi) untuk segala hal. Pacaran di satu sisi akan membawa pemahaman akan cinta lebih tinggi, tapi dengan resiko yang begitu besar,"

"Emm... Beruntung benar ya, perempuan yang mendapatkan pria yang menjaga hatinya, dengan menjaga jarak sebelum waktunya dan berikrar di hadapan orangtuanya untuk menepati janji,"

"Jika bisa, itu yang kau lakukan," Jon berpesan.

Sepertinya, nasehat itu lebih cocok untuk si Jon sendiri, daripada orang lain.

No comments:

Post a Comment