'Alaa bidzikriy... - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, December 15, 2018

'Alaa bidzikriy...

1 Maret 2015 pukul 17.29
Seperti kisah fabel kesukaan kita. Sang katak yg tuli tak mendengar cemoohan katak lainnya. Ia terus melompat, melompat, meski terjatuh terluka, ia mampu melampaui lubang itu. Ketika yg lain sibuk bicara, berpikirlah, lalu bertindaklah tanpa kenal menyerah._Jon Q_

Kisah si Jon semakin ramai memasuki bulan ke-3 tahun ini. Bak cerita si kurus dan harimau hutan, ia terus berjalan menuju apa yg mungkin terjadi di masa depan. Hidupnya kini benar-benar 'puasa'. Ia tak membeli apapun, kecuali dibelikan kakak/bapaknya. Pulsa, bensin, modem, ia kini tak pernah beli sendiri. Ia hanya 'nafsu' untuk membeli buku. Itupun bekas, dan kredit di teman lapak buku alun-alun. Buku yg dibelinya pun 'aneh-aneh', semisal 'Gatolotjo' di bulan kemarin. Buku kisah pemuda gembrot-pendek-bersisik yg mengalahkan ilmu para ulama dan kecerdasan para dewi kayangan.


"Ketika turun wahyu 'Alaa bidzikrillahi tathma'inul qulb', itu bukan hanya tentang ketenangan hati (rasa)," kata Jon. "Kata 'dzikir' disana bukan hanya 'wirid', ucapan-ucapan baik pada Tuhan, tapi juga 'tadzkiroh' (dzikir), yaitu pelajaran, ilmu pengetahuan,"

"Kau yakin pengetahuanmu mampu menyatukan ustadz dan sesepuh kampung itu?" tanyaku.

"Ilmu pengetahuan bukan untuk kita percayai," jawabnya. "Hukum untuk ilmu pengetahuan adalah logis atau tidak (dalil rasional), dan terbukti atau tidak (dalil empiris). Bahkan fisika kuantum pun, membuktikan tak ada yg bisa kita pastikan di dunia ini. Kita cuma bisa melihat kemungkinan paling mungkin terjadi dari apa yg kita kerjakan,"

"Keluarga dan orang cerdas di kotamu saja tak bisa, bagaimana mungkin kau berani?" tanyaku lagi.

"Kau masih ingat kisah katak yg terjatuh di lubang tanah? Atau si kurus dan harimau hutan?" ia bertanya retoris. "Orang-orang ketakutan dengan suara harimau yg mengaum tak henti di hutan kampung. Si kurus mendatanginya, ia mendapati hewan itu terperangkap kakinya. Ia menyelamatkannya, lalu mereka berteman. Aku bukan orang cerdas/pemberani - seperti si kurus itu, aku hanya manusia yang tak peduli lagi pada apa yang akan terjadi dengan diriku sendiri,"

No comments:

Post a Comment