Belajar Sejarah 2 - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, December 27, 2018

Belajar Sejarah 2

17 Februari 2015 pukul 17.40

Hakko Ichiu, merupakan ajaran nasional Jepang. Hakko, berarti keluarga, Ichiu dari kata Ichi, satu (siji, bahasa jawa). Doktrin atau ajaran tentang menyatukan Asia Raya menjadi satu keluarga dan dipimpin Jepang inilah yang menjadikan Jepang melakukan ekspansi (memperluas kekuasaan) ke negara lain. Bukan Cuma ke negara tetangga, Cina (sekarang menjadi Tiongkok) dan Korea, tetapi juga ke Eropa. Di jaman itu, sedang ada perlombaan produksi senjata, yang nantinya mengarah terjadinya perang pasifik dan perang dunia 2. Negara-negara seperti Uni Soviet (sekarang Rusia), Jerman, Italia, termasuk Jepang, melawan negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat, termasuk Belanda yang sedang menjajah Indonesia. Jepang menjadi musuh baru yang menakutkan untuk Inggris dan Amerika Serikat, dengan prinsip seorang samurai : Menang atau mati. Kalian mungkin pernah dengar kata ‘Harakiri’, yaitu ketika seorang samurai menancapkan pisau ke ulu hatinya sendiri karena gagal menjalankan tugas. Prinsip itu juga dipakai saat jaman perang Jepang. Bahkan sampai saat ini juga masih, hanya caranya yang berbeda. Jika dulu bunuh diri, sekarang dengan cara mengundurkan diri dari jabatannya. Selain atas dasar doktrin di atas, Jepang melakukan ekspansi juga untuk memperluas jajahan, merekrut prajurit perang, juga menyediakan bahan pangan/kebutuhan perang.

Dengan kekuasaan Inggris dan Amerika pada negara-negara penghasil minyak (timur tengah, Afrika, dll), Inggris dan Amerika mengembargo impor minyak bumi Jepang. Hal ini dilakukan dengan tujuan menghambat atau menghentikan langkah Jepang yang semakin membahayakan negara-negara tersebut. Maka mencarilah Jepang minyak bumi sampai ke Indonesia.

Untuk kepentingan sendiri, Jepang membangun banyak jembatan, salah satunya di Tanggerang, yang menghubungkan dengan Banten menuju Samudera Hindia. Jepang juga memperbaiki alat-alat transportasi dan komunikasi, agar semua rencana Jepang berjalan lancar. Jepang menyita seluruh kekayaan rakyat Indonesia, mulai dari perkebunan, perusahaan, Bank-Bank, pabrik-pabrik, juga sarana telekomunikasi. Setelah semua sarana kebutuhan sehari-hari dikuasai, Jepang juga mengganti sistem pendidikan Indonesia. Yang awalnya menggunakan sistem pendidikan Belanda, diganti menggunakan sistem Jepang, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMA 3 tahun. Kurikulum juga diganti, menjadi kurikulum ajaran perang Jepang, agar para pemuda mendukung perang Jepang melawan Sekutu (Inggris Cs). Merasa kurang dalam menjajah, Jepang memaksa rakyat, khususnya para petani untuk dijadikan pekerja paksa (Romusha). Dijaman Belanda ada Rodi, kerja paksa, ada juga Tanam Paksa (Cultuur Stelsel), Jepang melanjutkan penindasan itu, hanya berganti nama. Romusha inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa orang Jawa tersebar di seluruh pelosok nusantara, tentunya selain dari program transmigrasi (politik etis, Van Deventer) juga siasat merebut Irian Barat (sekarang Irian Jaya/Papua) oleh Soekarno, dan ekspansi para pengusaha Warteg. (hehe, yang ini bercanda,he)

Jika para petani dipaksa menjadi Romusha, beda lagi dengan para gadis desa. Sebagian mereka yang ditangkap, dipaksa menjadi Jugun Ianfu (PSK) yang ditindas untuk menjadi wanita tuna susila. Tapi, selain ini tidak ada di LKS, pembahasan tentang Jugun Ianfu terlalu menyedihkan. Jadi tak perlu dibahas lebih banyak. Okeh, khekhe J

Jepang memerintah Indonesia dengan tirani. Dari kata Tiranosaurus, hewan purba raksasa yang kejam dan buas. Jepang membuat tipu daya organisasi-organisasi pemerintah/sipil, militer, menciptakan Romusha, Jugun Ianfu, merampas hak hidup rakyat setelah dirampas oleh Belanda, memaksa menyembah Matahari (kisahnya nanti di episode ketiga,hehe), menjalankan sistem ekonomi Autarki. Yaitu sistem ekonomi agar daerah-daerah mampu menyediakan kebutuhannya sendiri plus menyediakan kebutuhan Jepang selama perang. Rakyat bekerja dua kali lipat lebih parah.

Pertanyaan kedua, mengapa jika saat dijajah Belanda rakyat Indonesia total melakukan peperangan, sedangkan saat dijajah Jepang rakyat nampak tak begitu penuh dalam memerangi Jepang?

BERSAMBUNG ke BELAJAR SEJARAH 3


No comments:

Post a Comment