Konsekuens, - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, December 30, 2018

Konsekuens,

28 Februari 2015 pukul 22.54

Ketinggian ilmu seseorang berbanding terbalik dengan keinginan jiwanya. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia merendahkan kehendaknya sendiri. Ia harus 'bertarung', memilah, mana kehendak diri, dan mana kehendak-Nya. Aqimishola wa anfaqu mimma rozaqnahum. Berjuanglah - bangkit, dan infakan dirimu pada-Ku._Jon Q_

Difirmankan, setan akan menggoda manusia dari segala penjuru. Dengan dunia - materi, penderitaan, kesenangan, rasa takut kehilangan, sakit, kematian. Jika manusia telah berhasil menaklukan itu, lawan terakhir adalah dirinya sendiri. Manusia tak bisa menyalahkan setan, karena ia memang ditugaskan untuk menggoda. Ditugaskan siapa? Tuhan. Untuk apa Tuhan mengutus setan? Agar jelas, mana yg pantas mendapat 'kedamaian-Nya' (jannah), dan mana yg tidak pantas.

Hampir tiap selesai mengisi pengajian, Jon bertanya pada dirinya sendiri. Ia mengevaluasi dirinya sendiri. Apakah memang mereka (orang-orang) perlu 'dicerahkan', atau biarkan saja mereka dalam ketidaktahuan? Apakah yg ia sampaikan itu benar?

"Ini benar-benar 'fitnah' (ujian) untukku," batinnya berkata.

Ada konsekuensi besar yg harus ditanggungnya. Dirinya yg masih muda, harus menekan hasratnya untuk 'mencerahkan' masyarakat. Ia harus menjaga mulut, terlebih keinginannya untuk memberikan pemahaman. Orang muda seperti dia, akan selalu dicurigai. Semakin ia mengenalkan dirinya, semakin orang tak mengenalnya : apa iya dia 'seperti itu'?

Tenaga dan pikirannya dibutuhkan, tapi jika ia tak kuat (tak membaca kemungkinan takdir), pada akhirnya ia akan dikalahkan oleh kecurigaan.

"Tiap pejuang harus memiliki 'dua mata'," katanya malam itu. "Satu mata melihat masa kini, satu mata lagi melihat kemungkinan takdir masa depan. Bukan agar kita bisa menghindar ketika itu datang, tapi agar kita tenang. Memang demikian konsekuensi hidup seorang 'pejuang'. 'Alaa bidzikrillahi tathma'inul qulb, orang mengira dzikir dalam ayat itu sebagai kalimah tayyibah. Padahal bukan hanya itu. Dzikir (wirid) untuk menenangkan (hati) - sementara, sedang 'dzikir' (mempelajari ilmu) untuk ketenangan hati yang kekal. Orang yang ibadah ritualnya tinggi, batinnya akan tenang, tapi tanpa ilmu, pemikirannya akan dangkal, dan mudah tersinggung. Di sana ujian orang-orang yang berjalan di 'jalan Tuhan'. Ketinggian ilmu seseorang berbanding terbalik dengan keinginan jiwanya. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia merendahkan kehendaknya sendiri. Ia harus 'bertarung', memilah, mana kehendak diri, dan mana kehendak-Nya. Aqimishola wa anfaqu mimma rozaqnahum. Berjuanglah - bangkit, dan infakan dirimu pada-Ku,"

No comments:

Post a Comment