Perkenalkan, Namaku Uang - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, December 28, 2018

Perkenalkan, Namaku Uang

Perkenalkan, namaku uang. Tubuhku lemah, tapi orang-orang jelas lebih tertarik mengambilku di jalanan daripada  - bahkan – menyapa manusia paling lemah di pinggir jalan : pengemis, gelandangan, PSK, dll. Aku mengubah pandangan manusia menjadi ‘juling’, aku yang hanya kertas ini lebih istimewa daripada manusia-manusia lemah yang oleh Tuhan justru diminta untuk menolong mereka.

Orang-orang merebutkanku, siap mengubah sikap demi aku, siap berbohong, mengkhianati teman, bahkan saling bunuh sesama karena aku. Sebenarnya, ada satu lagi yang menjadikan manusia pada umumnya berkorban mati-matian, yaitu saudara kandungku, jabatan. Tapi aku sudah jelas lebih menarik untuk diperebutkan dan tanpa gelar, tidak seperti jabatan. Aku lebih powerfull. Manusia menganggap dengan banyak memiliki aku, mereka mamu membeli apapun, termasuk wanita. Mereka lupa, aku mampu membeli obat dan menyewa dokter paling mahal, tapi aku sama sekali tak bisa membeli kesembuhan. Aku mampu membeli rumah, besar bahkan mewah, tapi aku tak bisa membeli kebahagiaan dalam keluarga. Banyak suami-istri berpisah justru karena aku. Anak-anak terjerumus narkoba, seks bebas, karena mereka menganggap banyak uang menjamin segala hal. Aku bisa membeli makan siang, tapi tak pernah bisa aku membeli persahabatan. Aku bisa membeli seragam, tapi tak bisa aku membeli kemuliaan. Denganku manusia bisa memanen pujian dari banyak orang, tapi aku tak menjamin kesetiaan apalagi ketulusan. Aku tak seharusnya dimiliki orang-orang kaya yang justru membuatnya semakin miskin.

Kadaal faqru an yakuna kufron, kefakiran dekat dengan kekafiran. Hadits lemah ini diajarkan oleh Imam Al Ghazali dalam bukunya ‘Ihya Ulumuddin’ (Menghidupkan ilmu-ilmu agama). Dijelaskan oleh Sofyan Ats Tsauri, seorang tabi’in beberapa abad sebelum Imam Al Ghazali, yang dimaksud kefakiran di sana adalah ‘fakir hati’, kemiskinan iman. Ketika rasa malu meminta pada manusia telah berangsur hilang. Tak malu lagi meminta ini itu pada manusia, terlebih lagi bergantung pada uang.

Dalam satu ceramahnya, Caknun (Emha Ainun Nadjib) pernah menjelaskan bahwa miskin itu baik, tapi fakir itu kondisi yang harus ditolong. Sebaliknya, kaya itu bahaya. Beliau melanjutkan, orang kaya yang masih mencari, bahkan mengumpulkan kekayaan dunia, dialah si miskin yang sebenarnya. Orang yang kaya sudah tak mencari harta lagi. Sudah tak cari uang lagi. Orang yang mencari kekayaan adalah orang miskin. Orang yang hidup di dunia dan mencari dunia adalah orang bodoh. Hidup di dunia kok mencari dunia? Seperti kita sudah sampai di sebuah sungai, tapi kita mencari-cari sungai. Hidup di dunia itu mencari akhirat.

Orang yang sudah kaya, dalam makna denotasi ataupun konotasinya, dia tak akan mencari kekayaan lagi, ataupun uang. Tahap yang lebih tinggi dari mencari uang adalah mencari rezeki, yang bukan Cuma berwujud materi – uang. Tetapi apapun juga yang membahagiakan jiwa : teman, menolong sesama, bahkan senyuman adalah rezeki. Atau yang lebih tinggi, orang kaya seharusnya mencari keikhlasan Tuhan, atau yang paling puncak adalah mencari Tuhan. Bukan sebaliknya, mencari uang dan harta lalu kita anggap itu sebagai Sang Penguasa : Tuhan. Dari tahapan terrendah – miskin, mencari uang, lalu meningkat ke derajat yang lebih tinggi yaitu mencari rezeki, keikhlasan Tuhan, bahkan Tuhan.

Aku tak bisa memasuki hati orang-orang yang dalam hatinya terus mencari Tuhannya. Dalam hatinya, aku tak berharga. Mereka membutuhkan aku, tapi hanya sekedarnya. Aku ada di tangan mereka, tai tidak di hati mereka. Andai aku punya perasaan, aku pasti sakit hati. Seperti seseorang yang memiliki raga kekasihnya, tapi tidak dengan hatinya. Karena hati orang-orang yang terus mencari Tuhannya, telah dimiliki oleh-Nya.

No comments:

Post a Comment