Pezina dan Orang Suci - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, December 28, 2018

Pezina dan Orang Suci

Suatu malam masuk pesan Whatsapp dari seorang teman lama, “Mas, mau nggak temani saya ke guru mengaji kita, saya mau nikah ulang?”

Pembaca paham maksudnya? Nikah ulang dalam Islam, kalau bukan karena talak (cerai) 3, maka itu adalah ‘kecelakaan’. Menikah dengan alasan perempuannya sudah hamil lebih dulu. Sebagai seorang teman, saya cukup kaget mengetahui teman lama saya ternyata ‘begitu’. Bukan karena tak mungkin, tapi memang selain saya tak terbiasa mencurigai seseorang, penampilan sehari-hari nampak alim. Seakan tidak mungkin dia dengan ritual ibadah yang taat memiliki masa silam yang kelam. Secara ilmu fiqh, ada kesepakatan ulama bahwa menikah dalam kasus seperti itu, harus nikah ulang. Maka orang-orang yang datang ke pernikahan yang mempelai perempuannya telah hamil lebih dulu dihukumi mubah : jelek. Kecuali jika memang benar-benar tidak tahu. Seorang siswa pernah bertanya tentang ini, bagaimana kita bisa menengoknya jika mendatangi pernikahannya dilarang? Datangi dia, setelah pernikahan selesai. Karena mendatangi undangan pernikahan seperti itu seakan kita melegalkan (menghalalkan) menikah dengan dasar zina.

“Oke bro, nanti kalau sampean pulang Insya Allah saya temani kesana,” dia di Jakarta, sedang saya di Tegal.

Dia salah satu teman yang saya ajak mengaji pada seorang guru sufi di Kabupaten kami. Tidak pernah menyangka, kalau ternyata dia juga punya masa lalu yang tak enak diingat. Setiap orang punya itu, bukan? Dulu, ia cuma pernah cerita tentang pekerjaannya di klub malam / karaoke. Tentang kebiasaannya meminum minuman keras. Juga tentang mantan kekasihnya yang tiba-tiba datang meminta dinikahi, lalu setelah diselidiki ternyata dia sudah dihamili orang lain. Sebagai laki-laki kita akan dilema jika dalam posisi itu. Tapi saya tak pernah benar-benar peduli dengan masa lalunya. Saya emoh memikirkan kehidupan privasi orang lain, apalagi tentang masa silamnya yang tak menyenangkan. Saya hanya peduli, bahwa dia ingin berubah, ingin hijrah, ingin belajar lagi. Dan memang setiap orang seharusnya justru ada di samping temannya saat ia membutuhkan pertolongan. Apalagi ini tentang kehidupan dunia-akhirat. Setiap pendosa punya masa depan, dan setiap orang suci punya masa lalu. Bukan bagaimana kita mengawali hidup ini dulu, bukan seberapa suram masa lalu kita, melainkan bagaimana kita memperbaiki dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Biarkan masa lalu tetap berada di tempatnya – ‘di sana’, kita tak berada di sana lagi. Menyalahkan diri sendiri – apalagi orang lain, hanya akan memberatkan langkah kita ke depan. Terima, dan belajarlah bangkit kembali meski berat dan pelan-pelan. Fa’fu washfahu, maafkan (diri kita) dan berlapang dada-lah.

Lemahnya pendidikan karakter (moral/akhlak) menjadikan masyarakat kita mudah terbawa opini. Hasud dan ujaran kebencian (apalagi hoax) menyebar sangat cepat. Tidak ada semangat mencari lagi, bertanya, mengkroscek, tabayun (mediasi). Orang-orang seperti teman saya itu, sialnya, lebih sering bertemu dengan orang-orang yang antipati. Menganggap hina mutlak, pendosa, Tuhan murka, atau bahkan diancam neraka. Seakan-akan hidupnya tak memiliki kesempatan  lagi untuk bertaubat. Kita yang mendengar persoalan seperti itu cenderung berpikiran negatif, bahwa orang-orang seperti itu sudah tentu buruk. Kehidupan sosial lebih sering tak bisa dihitung-hitung secara pasti seperti matematika. Sudah menganggap mereka buruk, menyebarkan gosip, merasa suci, tak bisa memberi solusi pula. Kampret.

Seorang siswa bertanya tentang WTS (Wanita Tuna Susila), apakah Tuhan akan menerima taubatnya setelah puluhan bahkan ratusan kali berzina? Saya jawab, iya. Bagaimana jika setelah taubat, dua hari kemudian berzina lagi, lalu taubat lagi subuhnya? Saya jawab, iya. Dia tanya sekali lagi seperti itu, dan saya jawab sama. Sebesar apapun dosa / kesalahan manusia, ampunan Tuhan masih lebih besar daripada itu. Ada kisah tentang seorang WTS di jaman Nabi Musa yang dijamin masuk surga.

Kisah tentang perempuan pezina, yang dalam perjalanan menuju seorang mursyid untuk bertaubat dan di tengah perjalanan itu dia meninggal kelelahan, kehausan. Ia lebih memilih menolong seekor anjing yang sama-sama kehausan di dekat sumur. Lebih memilih berjuang mati-matian menjaga air agar tidak habis dari terompahnya yang digunakan untuk mengambil air. Lebih memilih menahan dahaga dan lelah kehausan – terlebih menahan sakit tersiksanya hasrat bertaubat, hanya untuk seekor anjing.

Setiap teringat kisah ini, ingatan saya terkenang dengan seorang guru yang bercerita tentang Rumi (Jalaludin Rumi) dan seekor anjing kotor di pinggir jalan.

“Mengapa engkau memberi roti-mu pada anjing kotor seperti itu?” tanya seseorang pada Rumi.
Jawab Rumi, “Aku tak melihat ia adalah seekor anjing. Aku memberi roti pada diriku sendiri,” kisah religius yang ‘terlalu dalam’.

Kita dididik dari kecil dengan asuhan yang lebih banyak menyimpang di masyarakat. Kita tak bisa menyebut malam untuk siang, malam ketika gelap, siang ketika terang. Seorang pezina disebut pezina saat ia sedang berzina. Ketika dia sedang berdoa, dia sedang bersujud menangisi masa lalunya, dia seorang hamba. Kata-kata cenderung sepele, tapi ketika itu telah melukai perasaan, bisa jadi akibatnya sangat fatal. Pezina atau orang suci, selama masih hidup mereka sama-sama memiliki kesempatan yang sama untuk bertaubat. Manusia tak bisa mengukur kesucian hati seseorang, hanya Tuhan yang memiliki ‘alat ukur’ itu. Mungkin dia pernah berbuat jahat, tapi bukan berarti dia adalah penjahat. Siapa di antara kita yang tak pernah berbuat jahat? Tak pernah berbuat ceroboh atau kesalahan fatal yang kita menyesalinya sampai saat ini? Termasuk juga sebutan pencuri, penjudi, pemabuk, dan lain-lain. Agar ketika kita mendekati mereka, kita menerima mereka sebagai seorang manusia biasa seutuhnya. Memiliki sisi terang dan gelap. Bisa salah, bisa juga melakukan sesuatu yang benar. Manusia memiliki hak untuk berbuat salah, sebesar hak-nya untuk berbuat kebaikan/kebenaran. Kita menganggap diri kita sama, egaliter, dan di hadapan Tuhan hanya takwa saja yang membedakan. Dan takwa, kita tak bisa memastikan itu pada diri kita apalagi orang lain. Hanya Tuhan yang mampu mengukur itu.

Tidak semua orang melakukan dosa, entah itu berzina ataupun mencuri, melakukan itu karena keinginan dan dilakukan dengan senang hati. Suatu perbuatan tak mungkin berdiri sendiri tanpa sebab yang bisa diterima, meskipun tak harus selalu masuk akal. Seorang WTS/PL misalnya, tidak semua perempuan yang sedang tersesat itu menikmati pekerjaannya. ‘Harga’ mereka menurun dahsyat lebih cepat daripada turunnya harga barang-barang mewah seiring berjalannya waktu. Lagipula, perempuan mana yang saat kecil bercita-cita menjadi PL / WTS? Bisa jadi, para pezina, termasuk temanku itu di masa lalu, melakukan dosa karena kita sebagai teman tak peduli padanya. Kita tak menemaninya dengan tabah, tetap berada di jalan Tuhan meski berat.

Ketika saya menerima pesan WA itu, saya termenung. Lebih baik manakah, teman saya itu yang sangat ‘tersiksa’ karena dosanya dan berjalan dalam kebaikan. Atau saya yang seakan tak ada peningkatan kebaikan? Jangan-jangan saya sudah merasa menjadi orang baik, orang yang benar? Menjadi orang yang dalam pikirannya menganggap setan adalah musuhnya. Sedang yang sebenarnya justru aku dalam jalan setan yang diam-diam menuntun saya pelan-pelan?

Innahu yarookum huwa wa qobiuhu min haitsu la tarownahu
Setan dan para pengikutnya melihat kita dari suatu tempat yang kita tak tahu di mana

No comments:

Post a Comment