Khalwat II - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, January 7, 2019

Khalwat II

23 Januari 2015 pukul 19.26

Happiness happen when we shared._McCandless_Into The Wild Movie_

Kenduri yg dilakukan Habil dan Qobil tak sekedar berbeda dalam bentuk. Lebih dari itu, Habil memiliki sebuah sistem (aturan) yg membuat qurbannya diterima. Bukan tentang apa yg dibagi, melainkan apa yg didapatkan setelah itu. Jika Qobil berbagi daging domba dan anggur, lalu tak ada apa-apa setelah itu, Habil berbeda. Ia memberikan makan - buah - dan ilmu, ketika membagi itu. Qobil memberi daging, yg ketika itu membusuk, akan segera hancur, hilang. Sedang Habil memberi buah, ketika itu membusuk dan hancur, biji di dalamnya akan tumbuh : itulah simbol ilmu. Ibarat benih, ia akan tumbuh.

Kisah primordial ini menjadi awal mula dikotomi antara pemegang dunia (kekayaan) dan pemegang ilmu. Berbeda dengan pemegang dunia yg berkali lipat memiliki persediaan hidup - kita bisa menyebutnya itu, pemegang ilmu hidup dalam keseimbangan. Pemegang ilmu mendasarkan hidup pada kebutuhan dan tuntutan sosial, bukan pada keinginan dan tuntutan personal/individual. Maka tak heran, hampir tiap nabi dibenci para pemegang dunia. Orang berilmu, seperti apapun pendiam dan rendah hatinya ia, tetap memiliki banyak 'musuh' : pembenci.

Sejarah pun berkembang. Para pemegang dunia berpikir bagaimana caranya menguasai juga para pemegang ilmu. Mereka tak paham, beda antara orang berilmu dengan orang pintar. Orang berilmu tak menjual ilmunya, terlihat dungu, hidup sewajarnya. Orang pintar selalu ingin menunjukan diri - bahwa ia pintar, tampil, berpikir bagaimana cara agar kepintarannya membuat dunia tergenggam. Maka muncul para nabi, rasul, filsuf, yg tak bisa 'dibeli' bahkan memilih mati. Yunani memiliki Sokrates, Nusantara memiliki Sunan Gresik.

"Menapa kula kedah sembahyang, Ki?" (kenapa kita harus sembahyang?) tanya seorang warga setelah acara pembacaan mantra orang mati yg diganti dzikir : orang sekarang menyebutnya tahlil pada Sunan Gresik.

"Iku pati. Ngilmu pati sakderenge pati sing saestu," jawab Sunan.

Bersambung,

No comments:

Post a Comment