Khalwat IV - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, January 10, 2019

Khalwat IV

25 Januari 2015 pukul 20.48

Dunia ini ibarat cermin. Ia adalah yg nyata, kita adalah bayangan. Lalu, siapa yg berdoa dan siapa yg mendengarkan?_Jon Q_

"Alaa ta'kuluwn?" kata Ibrahim pada patung-patung di depannnya. Mengapa tak kau makan sajian itu, para patung?

"Ma lakum la tanthikuwn?" mengapa kau tak menjawab perkataanku? Kata Ibrahim lagi.

Lalu pikiran, juga hati, akan seperti pintu. Jika terlalu lama tertutup, ia akan membutuhkan lebih dari sekedar kunci untuk membukanya.


Manusia, seperti yg telah diduga oleh Muhammad sang rasul, akan semakin tersesat. Maka ia mewariskan dua pegangan dalam jalan hidup manusia : qur'an dan sunahnya. Tapi, alih-alih mengikutinya dengan cara menaati para ulama, umat menjadi semakin sensitif. Apa saja yg keluar dari mereka adalah benar, dan apa saja yg 'terdengar baru' dari manusia biasa adalah mutlak salah. Rasul telah menyangka itu jauh sebelumnya. Masjid yg ia bangun dengan dasar takwa, telah diubah menjadi masjid yg dibangun dengan kemegahan : keberlebihan.

Dimanakah seorang muslim harus sholat? Apakah di masjid? Bukankah syarat utamanya adalah tempat yg bersih dan layak? Lalu, untuk apa masjid didirikan, jika sholat cukup di tempat yg bersih dan layak?

Karena di masjid-lah, Tuhan dicipta ulang. Seperti patung-patung zaman ayah Ibrahim, umat saat ini menciptakan 'Tuhan bayangan' yg hanya bisa disembah di dalam masjid. Tuhan yg menciptakan manusia, ataukah manusia yg menciptakan Tuhan dan rumah-Nya?

Maka doa-doa, seperti sajian di depan patung ayah Ibrahim. Mengapa Tuhan tak mengabulkan doa-doa kita? Seperti pertanyaan Ibrahim, 'Ala ta'kuluwn'? Mengapa tak Kau makan sajian itu, Tuhan? Mengapa Engkau tak kabulkan doa kami? Mengapa Engkau tak menjawab kami?

Lalu para ulama berkata, doa kita akan terganti yg lain, atau tertunda. Bagaimana membuktikannya? Apakah itu bukan semacam pembelaan untuk Tuhan, agar Dia tetap terkesan baik? Mana mungkin, manusia yg begitu lemah akan membela sesuatu yg lebih berkuasa darinya?

Bersambung,

No comments:

Post a Comment