Dari seorang *teman* - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, March 28, 2019

Dari seorang *teman*

10 Januari 2015 pukul 20.57

“Kau tentu mengira bahwa aku lelaki cengeng. Sebab, begitulah laki-laki yang menghabiskan waktu dengan buku dan menumpahkan rasa sedihnya ke dalam larik sajak dan cerita-cerita pendek. Mereka tak punya masa depan!”
– "Silsilah Luka" - Ida Refliana (Jawa Pos, 15 Desember 2013)

Aku menulis hanya untuk diriku sendiri, dan aku ingin menegaskan untuk akhir kali, bahwa biarpun aku menulis seolah-olah bicara pada seorang pembaca, itu kulakukan semata karena bagiku lebih mudah menulis dalam bentuk itu. Ia hanyalah bentuk, bentuk yang kosong—aku tidak akan pernah punya pembaca. Hal ini sudah kunyatakan dengan jelas….

Aku tidak ingin diganggu oleh batasan-batasan apa pun juga dalam mengumpulkan catatan-catatanku. Aku tidak akan memakai sistim atau metoda mana pun juga. Aku akan menuliskan segalanya seperti yang kuingat.

Tapi di sini barangkali ada yang memikirkan kata itu dan bertanya padaku: kalau kau betul-betul tidak mengharapkan pembaca, kenapa kau berusaha meyakinkan dirimu—di atas kertas lagi—bahwa kau tidak akan memakai sistim atau metoda mana pun jua, bahwa kau akan menulis sesuai dengan ingatanmu, dan sebagainya dan sebagainya? Buat apa kaujelaskan? Kenapa kau minta maaf?
Baik, aku akan menjawab.

Dalam semua ini ada suatu psikologi lengkap. Barangkali aku tidak lebih dari seorang pengecut. Mungkin juga dengan sengaja aku membayangkan seorang pembaca depanku supaya aku merasa lebih bermartabat waktu menulis. Mungkin ada seribu sebab. Sekali lagi, apa sebetulnya tujuanku menulis? Sekiranya tidak untuk keuntungan pembaca, kenapa kejadian-kejadian ini tidak kuingat saja dalam fikiran tanpa menuliskannya di atas kertas?

Betul; tapi jika di atas kertas ia jadi lebih mengesankan. Ada sesuatu yang memberikan kesan lebih besar dalamnya; aku akan lebih bisa mengeritik diriku sendiri dan memperbaiki gayaku. Di samping itu, siapa tahu dengan menulis aku dapat memperoleh rasa lega. Hari ini misalnya, aku sangat tertekan oleh sebuah kenangan di masa lampau yang sudah lama berlalu. Ia muncul dalam fikiranku dengan hidup sekali beberapa hari yang lalu, dan tak henti-hentinya menghantui aku laik lagu yang menjengkelkan yang tidak bisa disingkirkan. Aku punya beratus kenangan seperti itu; tapi kadang-kadang salah satu di antaranya memisahkan diri dan menekan aku. Entah kenapa, aku percaya, bahwa jika aku tuliskan maka aku mungkin akan dapat membebaskan diri dari padanya. Kenapa tidak dicoba?

Lagi pula, aku bosan dan aku tidak pernah punya kesibukan. Menulis akan merupakan semacam pekerjaan bagiku. Kata orang pekerjaan membuat orang jadi ramah dan jujur. Nah, inilah kesempatan bagiku.

– halaman 53-55, Catatan dari Bawah Tanah oleh Fyodor Mikhailovitsy Dostoyevski (penerjemah Asrul Sani, penerbit PT Dunia Pustaka Jaya atas kerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta, cetakan pertama, 1979)

No comments:

Post a Comment