Matahari di puncak malam (2) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, March 11, 2019

Matahari di puncak malam (2)

7 Februari 2015 pukul 23.48

Berniatlah untuk sesuatu yg lebih tinggi, lebih besar. Pertanyaannya, kita seringkali cacat dalam membedakan mana tujuan besar/tinggi, dan mana tujuan yg rendah/remeh._Jon Q_

Sore hari menjelang maghrib Jon merenung tentang masalah siswi kecilnya itu. Lamat-lamat, ia bertanya utopis pada rasulnya.

"Apa yg ingin Tuhan ajarkan dari hal ini, Rasul?"


Ia teringat Aisyah, istri nabi yg haid di umur 19. Itu mengapa rasul baru mengajaknya tinggal serumah. Perkembangan zaman, menjadikan anak perempuan lebih cepat dewasa. Semakin emosional, stress, semakin cepat terjadi. Dia seminggu tetap berangkat, tak merasa sakit. Mungkin karena leher rahim (mengalirnya darah haid) belum begitu tersumbat. Tapi, itu cuma teori Jon sementara. Besok, ia langsung menemui keluarganya.




Persoalan lainnya muncul lagi saat kumpul keluarga. Seperti biasa, Jon 'clash' dengan kakaknya, kini sekolah dan yayasan diamanahi padanya. Pundaknya semakin berat.

Setan meniupkan kecemasan, rasa takut, bayangan keburukan, keinginan, dan segala sesuatu yg menjauhkan manusia dari kedamaian jiwanya. Jika ia lulus dari bisikan itu, setan meniupkan khayalan indah masa depan, harapan tanpa pikir panjang.

Jon harus belajar lebih gigih, karena ia kini berada di tengah arus pusaran air kehidupan. Mengikuti akan tenggelam, melawan membutuhkan kekuatan besar. Dari mana kekuatan besar ia miliki, tubuhnya saja terlihat ringkih?

No comments:

Post a Comment