Pendeta dan seekor kalajengking - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, March 31, 2019

Pendeta dan seekor kalajengking

10 Januari 2015 pukul 19.28

Tidak sedikit orang-orang besar di masa lalu yg terjatuh karena hal kecil. Disana ada pemahaman, tentang rapuhnya seseorang di balik kebesarannya. Tak ada malaikat tanpa sayap di dunia ini._Jon Q_

"Mengapa hati ini merasa sesak saat mendengar seseorang berkata buruk tentang kita, pak?" tanya seorang siswa Jon.

Si Jon tak langsung menjawab. Ia malah bercerita, tentang seorang pendeta dan kalajengking.

"Ada seorang pendeta," cerita si Jon. "Ia sedang menyepi, membacakan mantra penenang hati di pinggir sungai, di bawah pohon. Tiba-tiba, seekor kalajengking jatuh ke dalam sungai. Pendeta itu membungkuk, menyelamatkan binatang itu. Tapi, setelah diselamatkan, ia menggigit. Pendeta itu tak peduli, ia kembali bersemedi.

Tiba-tiba kalajengking itu jatuh lagi ke sungai. Diambil lagi oleh pendeta, seperti itu sampai tiga kali.
Seorang warga yg merasa aneh dengan pendeta itu bertanya, "Mengapa kau tak membiarkan saja ia tenggelam?"

"Saudaraku," kata pendeta. "Ia tak bisa menolong dirinya sendiri. Ia menggigit, karena itulah sifat alami binatang,"

"Kalau kau tahu ia akan menggigit, mengapa kau menolongnya?" tanya warga itu lagi.

"Ah, saudaraku," kata pendeta. "Aku juga tak bisa menolong diriku sendiri. Sudah sifat alamiku untuk menyelamatkan ia yg membutuhkan,"

Jika kita menganggap diri kita baik, mengapa membiarkan keburukan berada dalam (pikiran) diri kita? Jika kita buruk, mengapa marah jika ada orang yg berkata jujur?" kata Jon pada siswanya. "Belajarlah untuk mencintai segala sesuatu. Karena, tak ada yg tetap buruk ketika telah terpeluk oleh rasa itu."

No comments:

Post a Comment