Rekayasa takdir - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, March 29, 2019

Rekayasa takdir

11 Januari 2015 pukul 12.59

Dunia di luar diriku bukanlah aku. Dunia di dalam diriku inilah aku yg sebenarnya. Aku akan berjalan disana, lalu pulang kembali kesana pula._Jon Q, Ins. Sartre_

Manusia berdoa pada Tuhan tanpa diketahuinya, bahwa doa itu bukan untuk-Nya, tapi untuk dirinya sendiri. Ketika Ayub berdoa, Anni massaniyadl dluru wa anta arhamur rahimin. Ia tak meminta, ia menyapa dirinya sendiri. "Oh, diriku. Sungguh aku tertimpa sakit. Mengapa terasa begitu lama,"

Ketika Dzun Nun meninggalkan umatnya dengan kemarahan, ia termakan kegelapan yg disimbolkan ikan. Lalu ia berdoa, "La ilaha illa anta, inni kuntu minadz dzolimin," ia memahami dirinya sendiri. Lebih dari itu, seperti Ayub, ia memaafkan dan menerima dirinya yg memang memiliki sisi lemah.

Ketika Zakaria berdoa, "Robbi, la tadzarni fardaw wa anta khoirul waritsin," Tuhan, jangan biarkan aku hidup sendiri - tanpa keturunan, bukankah Engkau sang pemilik semua pewaris?

Disana, ada konsistensi upaya. 'Keras kepala' berusaha, bukan keluar dari dirinya, tapi ke dalam. Mereka melihat, mendengar, merasakan, bukan untuk mengingat sesuatu di luar dirinya. Tapi untuk mengingat diri mereka sendiri, lebih dalam.

Mereka menaklukan rasa takut. Bukan ketakutan dari luar diri mereka, tapi dari dalam. Barangkali itu mengapa apa yg tak diinginkan datang, tapi yg diinginkan justru tak datang : rasa takut yg kita ciptakan sendiri. Persoalannya, sekalipun manusia telah mampu mendamaikan ketakutannya, ujian hidup tak berhenti disana. Tapi, paling tidak itu adalah kunci rekayasa takdir, melenyapkan rasa takut pada dunia, pada Tuhan, pada diri sendiri yg terdalam. Lalu, mengganti semua itu dengan cinta. Meleburkan segala ketakutan, pada diri yg tenggelam dalam cinta, yg melenyapkan rasa takut tanpa ampun.

No comments:

Post a Comment