Bakat dusta & beban gelar - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, April 25, 2019

Bakat dusta & beban gelar

18 Desember 2014 pukul 13.00

Kebohongan itu seperti tanah longsor. Kecil, lalu tambah besar, kemudian menjadi bencana. Jangan marah pada ia yg dusta, pahami, ia memiliki alasan tersendiri. Tapi, tak berarti kita diam._Jon Q_

Benarkah manusia juga terbakati oleh watak negatif? Ada orang yg berbohong untuk melindungi diri, harga diri, nama baik. Tapi, ada juga orang yg berbohong untuk menutupi siapa diri yg sebenarnya. Orang tipe kedua ini, biasanya terlalu sering dikecewakan. Bukan karena ia berharap lebih pada yg lain, sebaliknya, tak ada yg percaya ketika ia jujur, berterus terang siapa diri yg sebenarnya. Kebohongan pertama dimiliki para pengecut, orang-orang naif yg mengira dengan mewarnai batu kali bisa menjadi permata. Sedang yg kedua, dimiliki orang-orang putus asa yg menikmati hidup apa jadinya, mesti tak satupun orang memahaminya.

Maka banyak orang memilih hidup dengan 'bertopeng'. Menutupi wajah jiwanya yg bopeng. Kebohongan tersimpan, tak lenyap, meski terkadang atas nama 'sayang'.

"Mah, ini gaji bapak bulan ini," kata seorang suami.

"Simpan saja buat bapak. Gaji mamah lebih besar," kata istrinya. Sang suami harus berbohong, bahwa hatinya yg sangat kesal harus ditopengi senyuman.

"Aku mau kerja, Mas. Aku malu - kata orang, sarjana kok 'menganggur'," kata seorang istri. "Kalau gaji mas cukup, aku tak akan meminta - kerja,"

Sang suami pun harus berbohong, bahwa hatinya menerima kejujuran sang istri, meski terasa sakit.

No comments:

Post a Comment