Di sini, di sana - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, April 1, 2019

Di sini, di sana

31 Desember 2014 pukul 13.09

Kau harus pecahkan batu itu agar keluar air dari celah-celahnya. Ambil resiko untuk bahagia, agar ketika kereta kehidupan menabrak kita, dulu kita pernah berjaya._Jon Q_

Sambil servis motor kakaknya di teman SMP Jon, kami memesan dawet ayu. Dawet khas banjarnegara, daerah yg kemarin baru saja menyisakan duka untuk bangsa.

"Aku tak mau ikut marhabanan lagi. Aku tak kuat, mata ini memaksa air mata untuk tumpah tiap saat imajinasiku ke sana - zaman nabi." kata Jon.

"Lho ya jangan dong. Nanti siapa yg jadi pengganti vokal sholawatannya?" sanggahku.

Jon membagi imajinasinya. Betapa sulit untuk menjadi seorang pria yg diperebutkan banyak istri yg cemburuan, diteror banyak suku, terancam perang, terkena sihir, diracun, juga peristiwa penjatuhan batu dari rumah lantai 2 : rasul selamat. Tapi tentang sihir, konon menjadi alasan turunnya surah an-nas, al falaq, dan al ikhlas. Ketika Khaibar ditaklukan, daerah yahudi kaya raya, dengan tradisi arab semua kaum pria dieksekusi, sedang wanita dan anak-anak menjadi tawanan. Dari itu, kaum yahudi yg tersingkir semakin melakukan serangannya : sihir.

"Ingin sekali aku terlahir saat itu. Melakukan tindakan berharga untuknya, meski itu kecil," kata Jon.

"Tindakan berharga? Merendah kau ini ya? Daripada banyak orang sepertimu, kau ini telah melakukan tindakan berharga cukup banyak. Di sini mungkin sedikit yg mengenalmu, tapi tak menghapus cerita hidupmu, yg tiap orang mendengarnya akan malu. Berharap hidup di sana - jaman nabi, kau terlahir di sini dengan alasan tepat. Begitupun tiap manusia di jaman ini, terlepas mereka malas menjadi lebih besar dari dirinya saat ini," sanggahku sok bijak. "Bayar. Kau kan yg mengajakku kesini," melihat raut wajah Jon yg melongo membuatku terpingkal.

No comments:

Post a Comment