Dialog di pantai siang itu - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, April 16, 2019

Dialog di pantai siang itu

27 Desember 2014 pukul 20.14

Paling menyedihkan, adalah terlahir dengan hati, tapi tak pernah mampu untuk mencintai. Hal terindah di dunia ini tak dapat dilihat oleh mata dan tak dapat didengar oleh telinga, tapi dirasakan oleh hati._Helen Keller_

Sebuah dialog Jumat siang lalu di sebuah pantai. Di sana ada Jon - tokoh utama kita yg belagu dan blo'on, Mas Bei, dan Pak Raj.

"Tambah sore tambah banyak saja ya yg pacaran," kata Jon sembari menyalakan rokoknya.

"Ah, iya, ya? Bapak nggak mengamati tadi," kata Pak Raj.

"Ini sih belum apa-apa," kata Mas Bei. "Tadi siang pas sholat Jumat, kami berdua ke masjid, eh, masih saja mereka pacaran. Ceweknya pada pakai jilbab, tapi cowoknya non-muslim kali ya?"

"Kalau kamu juga suka bawa cewek kamu kesini, Jon?" tanya Mas Bei.

"Idih, gue sih lebih berkelas dong," jawab Jon dibarengi tawa mereka bersama.

"Tapi saya minta tolong ya, Jon, semisal kamu pacaran, jangan bawa ke pantai ini. Buruk sekali perempuan yg dibawa pacarnya kesini," kata Pak Raj.

Jon hanya tersenyum. Di pantai itu sedang ada proyek yg di desain bapaknya Jon. Ia bertugas antar jemput bapaknya di sana.

Pernah suatu saat ia berdebat dengan seorang siswi tentang pacaran.

"Kalau kamu pacaran, jilbabnya dilepas saja," kata Jon.

"Lho? Mas Jon ini gila ya, pakai jilbab ini kan wajib? Bagaimana sih," jawab sang siswi.

"Perintah berhijab itu untuk memuliakan wanita. Masa' kamu sudah mulia, memiliki harga diri tinggi, merendahkan itu dengan pacaran?"

"Tapi kan yg penting tetap pakai jilbab, pacar aku juga senang kok,"

"Ya siapa yg nggak senang pacaran sama perempuan bodoh?"

Sang siswa mengernyitkan dahinya.

"Pria yg baik, ia akan menjaga lahir batin, jasad dan hati wanita, siapapun atau bagaimanapun wanita itu,"

"Nanti kalau diputus, bagaimana?"

"Kalau dia baik, dia akan menjaga jarak. Kalau dia tak baik, lalu memutuskanmu, mengapa menyesal?"
Jon tak bisa menjelaskan tentang tingkatan cinta, dari yg terendah sampai yg tertinggi padanya. Sebuah gelas tak akan sanggup menampung air sebesar timba.

No comments:

Post a Comment