Jalis - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, April 8, 2019

Jalis

19 Desember 2014 pukul 19.15

Suatu maqam (derajat) orang-orang yg berbincang dan 'duduk' di dekat Tuhan.

Musa berkata pada keluarganya, "Imkutsuw inniy anastu naaronn," ketika ia melihat api di sebuah lembah bernama Tursina, lembah Tuwa. Ia berada dalam kesadarannya yg terjaga, ia melihat pencerahan dirinya sendiri. "Aw-ajidu 'alan naari huda," ia berharap mendapatkan petunjuk dari api itu - cahaya pencerahan diri.

Lalu Tuhan pun mengajaknya berbincang, "Inniy anaa robbuka, fakhla' na'layka," Tuhan meminta Musa mendekat, melepaskan terompahnya. Karena ia tengah berada di tempat suci, tak ada sesuatupun yg berhak mengotorinya. Ia, Tuhan, hanya bisa ditemui dalam kesucian. Dalam ketidakpunyaan apapun, bahkan - seperti Musa, sesuatu sekecil terompah (alas kaki, kebendaan remeh) tak boleh terbawa ke hadapan-Nya.

"Innaniy anallah la ilaha illallah," ketika Tuhan meminta Musa meniadakan sesuatupun selain Ia, laysa hunaka illallah. "Fa'budniy," dan memintanya untuk menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Ia, karena memang milik-Nya-lah segala sesuatu. "Wa aqimisholah li dzikriy," tetaplah terjaga, wahai Musa, kata Tuhan. Karena dalam keterjagaan, seorang hamba akan selalu mengingat-Nya.

Seperti Muhammad ibn Abdullah yg merangkum seluruh syariat semua nabi, ia 'duduk' di dekat Tuhannya di atas pohon bidara (sidrah al muntaha).

"Dimanakah Ia berada?" tanya seseorang.

"Di dekat dirimu yg suci,"

No comments:

Post a Comment