Jon dan dokter jiwa - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, April 4, 2019

Jon dan dokter jiwa

28 Desember 2014 pukul 10.38

Biarkan kebencian dan segala keburukan sifat berada di dunia ini. Kita tak bisa menghilangkan itu, tapi jangan biarkan itu memasuki pikiran dan hatimu yg suci._Jon Q_

Sabtu lalu, kami pergi ke klinik dokter jiwa. Aku kira, si Jon akhirnya sadar kalau kejiwaannya memang kurang waras. Tapi, ternyata bukan. Di sana dia dijadikan sampel beberapa calon dokter.
"Mas Jon ini, dari luar memang terlihat penampilannya seperti anak remaja frustasi yg tak laku-laku," kata dokter senior. Ternyata dia dokter kenalan Jon saat masih kuliah. Kata-katanya, membuat mahasiswa para calon dokter itu tertawa tertahan.

"Lihat organ otak ini," kata dokter senior lagi. Di kepala Jon dipakaikan helm EEG (Elektro Encepalograp), pengukur gelombang dan zat yg keluar di otak. "Saat orang tertolak, bersifat negatif, otak menghasilkan Noradrenalin. Hormon ini satu tingkat di bawah racun bisa ular. Membuat orang mudah sakit, cepat tua, dan mati," kata dokter lagi. "Orang ini - Jon, ditolak berkali-kali, dihina, diejek. Sekalipun dia memang jelek - mereka tertawa, tapi dia jarang sekali sakit, tertekan/frustasi, bahkan, penampilannya tak jauh berbeda dengan anak SMA. Dia tak mau marah atau membenci siapapun lagi. Apa yg membuatnya demikian?"

Dokter itu menunjukan organ lain di otak Jon.

"Lihat bagian ini. Saat bagian ini mengeluarkan Beta-Endorfin, zat ini menyembuhkan racun itu. Zat ini juga yg menjadikan orang tetap terlihat cerah, selalu ceria, dan bahagia. Hormon inilah yg membedakan orang sakit jiwa yg dikarantinakan, dan yg mengubah dunia, salah satunya sahabat saya ini,"

Tepuk tangan membahana di ruang itu.

No comments:

Post a Comment