Paradoks II - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, April 12, 2019

Paradoks II

21 Desember 2014 pukul 18.06

"Indah benar ya ciptaan Tuhan," ucap Jon saat melihat sunrise di pantai minggu pagi. "Paradoks sekali,"

"Lah, tadi katanya indah, terus paradoks, maksudmu apa toh, Jon?" tanyaku.


"Coba pikirkan, Tuhan memberi manusia negeri ini dengan keindahan dan kekayaan yg besar. Mengapa Tuhan memberikan kelimpahan pada manusia-manusia bodoh seperti kita?"

"Shutt! Tak boleh itu, kita mempertanyakan takdir Tuhan," kataku lagi.

"Tuhan membungkus jiwa wanita dengan kelembutan, nampak lemah, sedang wanita itu 2x lebih kuat dari pria, 2x lebih dewasa dari pria. Bungkus tak segaris dengan isi," katanya lagi, cuek pada sanggahanku. "Laki-laki adalah tipe manusia yg tak betah hidup, suka tantangan, terlihat kuat dan pemberani. Sedang sebenarnya mereka rapuh, sensitif, kekanak-kanakan, mudah marah dan kasar. Lagi-lagi, Tuhan menciptakan paradoks, bungkus tak segaris dengan isi," katanya lagi.

"Yuk ah, kita ngopi dulu di warung itu," ucapku sambil melangkah pergi tak peduli dengan ocehannya.

Teringat dengan ucapannya, bahwa seseorang di satu titik perjalanan hidupnya akan sampai di persimpangan pilihan. Keputusan yg sangat mungkin akan berakibat pada takdir hidupnya. Jalan hidup apa yg akan ditentukan? Mengejar kelimpahan ataukan kekekalan dalam karya nyata? Menjadi manusia yg menikmati hidup dengan berbagi, ataukan mengumpulkan sebanyak-banyaknya materi. Ia akan 'tersesat' dalam pilihan, mengapa begitu banyak 'orang besar' hidup menjaga jarak dengan ketenaran, kelimpahan, pengikut, kehormatan? Tapi, sepertinya lebih mengasyikan hidup dalam keserbacukupan. Karena dengan itu orang-orang akan segan, hormat, DAN mengelu-elukan. Tapi, apakah memang penilaian orang lain itu penting? Mengapa seseorang harus hidup dalam 'bingkai' orang lain? Apakah kehormatan berada dalam kebendaan, jabatan, pengakuan?

"Paradoks. Orang besar 'terbungkus' kemiskinan, sedang orang-orang (berjiwa) kerdil berseragam kehormatan. Begitu banyak para ulama yg menganggap diri pengikut Muhammad, tapi menyenangi kemewahan."

No comments:

Post a Comment