Akal dan Iman - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, May 9, 2019

Akal dan Iman


Kalau kita ambil nasehat dari Al Ghazali, nafsu (beserta syahwat di dalamnya) adalah budak, akal adalah perdana menteri, dan hati adalah raja.

Kadang ada candaan tingkat tinggi ketika seseorang bertamu : tamu adalah raja. Tapi mungkin dia tak sadar, raja macam apa yang merasa menjadi raja di istana (rumah) orang lain?

Dan raja (hati, iman) di dalam diri inilah yang akan kita kupas.

Ketika kita telah sampai pada derajat berpikir di satu kordinat yang cukup tinggi, maka seringkali pernyataan kita akan nampak sederhana tapi 'aneh'. Seperti quran, misalnya kita ambil titik kordinat fastabiqul Khoirot. Berlomba-lombalah dalam kebaikan. Bagaimana kita akan berlomba mengejar kebaikan, kalau kita belum bisa membedakan mana yg buruk dan mana yg terbaik. Misal saat kita sekolah/kuliah, kita berlomba untuk nilai tertinggi ataukan ilmu yang banyak dan bermanfaat? Ini baiknya tidak dipisahkan, tapi yang terjadi kita memisahkan : kalau bukan nilai, ya ilmu.

Al qur'an adalah satu-satunya kitab yang sangat asyik dan tak akan pernah habis digali, terlebih ketika akal dan iman berelaborasi dengan harmonis.

Banyak ayat yang nampak 'aneh', paradoks, kontradiksi, tapi sebenarnya mengajak kita untuk menyelam lebih dalam. Selain ayat 'fastabiqul Khoirot, ada ayat yang mengatakan 'mereka yang menganggap indah perbuatan buruknya', di ayat lain, 'bisa jadi yang kita anggap baik menurut allah itu buruk, dan begitupun sebaliknya'. La, jadi apa ukuran baik buruk sebenarnya? Akal, tak bisa mencapai kebenaran. Akal, hanya bisa membuat anak-anak tangga kebenaran, mendakinya, tapi yang mampu sampai kesana adalah hati, ruh, rasa.

Bukan berarti dikotomis, dipisahkan, tapi ini seperti organ tubuh kita. Ada fungsi atau kordinat di masing-masing wujud.

Kalau kita menengok sejarah, banyak sekali pernyataan dari tokoh-tokoh besar jaman dulu yang nampaknya 'aneh'. Misal ungkapan Al Hallaj, ana al Haq, Al Busthami yang berdzikir 'subhani' maha suci Aku, Ibn 'Arabi yang berkata Iblis itu sangat taat atau Fir'aun itu masuk surga. Atau guru kita, Mbah Nun yang berkata : dalam Diri-Ku tidak ada aku, almarhum Gusdur yang berkata : aku lebih takut pada manusia daripada Tuhan. Apapun ungkapan kebencian generasi 'berakal sempak (pendek)' jaman ini, sejarah kemuliaan mereka tak akan terhapus hanya karena ucapan-ucapan anak-anak kecil yang rewel karena minta permen. Tuh, saya juga ikut berucap 'aneh'.😅

Ketika Gusdur mengatakan 'aku lebih takut pada manusia daripada Tuhan', yang tak kalah cetar dengan 'Ratu Kidul wes ta sms kon nganggo kudung' (Ratu kidul sudah aku sms buat pakai kerudung) yang diucapkannya pada Mbah Nun dulu, salah satu asbabul musababnya adalah rasa sebal yang memuncak pada organisasi muslim transnasional yang sering mengatasnamakan Tuhan demi kepentingan golongannya. Menakut-nakuti umat dengan bayangan Tuhan yang menakutkan : neraka, dosa besar, murtad, kafir, bid'ah, dsb. Kalau kita ingat beliau juga menulis satu buku yang sempat dibredel dan ditarik dari pasaran karena membahayakan golongan muslim itu.

Kolaborasi akal dan hati ini yang akan menjadikan manusia sangat dekat pada Tuhannya. Memahami keadilan konteks, 'hal apa untuk sesuatu yang dimana', mana wilayah akal, dan mana wilayah hati. Seperti 'mengingat' dan 'berpikir'. Mengingat itu wilayah iman, berpikir itu wilayah akal. Mengingat itu jarak pendek, berpikir itu jarak panjang. Yang benar, mengingat mati itu nasehat terbaik, bukan memikirkan mati. Memikirkan hidup saja kita belum benar, kok ya memikirkan mati?

Dzahaba dzoma'u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

Selamat berbuka puasa.

Bandung, Kamis 9 Mei 2019

No comments:

Post a Comment