Al A'raf : 17 - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, May 15, 2019

Al A'raf : 17

Al-A'raf ayat 17

ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُمْ مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمٰنِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شٰكِرِينَ

kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

Innahu aduwwum mubiin. Sesungguhnya, dia (setan, si penggoda) adalah musuhmu yang paling nyata (kekal, seumur hidup). Ketika Nabi Yusuf telah menjadi gubernur, dan kakak-kakaknya merendah di hadapannya tanpa mereka sadari, ia menyalahkan setan yang menjadikan para saudaranya itu kalap dan membuangnya ke sumur. Ia tak lantas merasa berkuasa, dengan jabatannya itu. Begitu pula ketika Musa dibuat lupa oleh setan ketika berada di dua aliran sungai, saat perjalanan bertemu Khidir. Ia tak menyalahkan pembantunya, yang asyik mengajaknya bicara.

Setan akan menggoda kita dari empat arah, agar kita lupa dengan sudut pandang yang beragam. Agar kita merasa sudut pandang, arah pandang diri kita sendiri lah yang benar. Empat arah itu juga bisa diartikan tingkatan iman. Bisa jadi syariat (sholat, puasa, dll) kita bagus, tapi thoriqot (jalan mendekati Tuhan) kita jelek. Syariat, thoriqot kita baik, hakikat (perenungan quran, kauliyah, kauniyah) kita buruk. Syariat, thoriqot, hakikat kita baik, ma'rifat (mengenal alloh) kita buruk. Dan kita merasa mampu, entah keras kepala atau teguh pendirian, menghadapi persoalan yang sama berkali-kali karena ketidakpahaman kita terhadap tipuan mereka (setan).

Wa la tazziruw wazirotuw wizro ukhro. Kita mungkin bisa bersembunyi dari kesalahan, tapi tak akan bisa lari darinya. Kemana pun kita, selama setan kita ikuti, ketidaktaatan pada-Nya, maka ujian hidup akan mengejar. Ujian hidup yang paling diincar setan adalah kebahagiaan jiwa manusia. Ketidakbersyukuran, hidup dirasa berat, mengeluh, terkena penyakit 3C (ciut, cindek, cetek
) pikiran. Kita harus bahagia, tapi bukan di atas derita orang lain. Dan kita juga harus bahagia, dengan ujian hidup seperti apapun, namun tetap menjadi diri yang baik, tanpa berprasangka buruk pada siapapun. Karena perbuatan buruk itu mengejar kita membawa kesialan, beban hidup yang lebih berat. Fa mayya'mal mitsqol ladzarotin khoiroyyaroh, wa mayya'mal mitsqol ladzarotin saroyyaroh. Besar atau kecil perbuatan kita, alloh akan menunjukannya.

Dzahaba dzoma'u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

Selamat berbuka puasa.

Tegal, Selasa 14 Mei 2019

No comments:

Post a Comment